Ukuran teks
18

Anak Pengungsi yang Membangun Kerajaan

Tehran, Iran, 1989. Seorang anak berusia 10 tahun berdiri di tengah kekacauan perang. Bom meledak di kejauhan. Orang tua nya membuat keputusan yang akan mengubah hidupnya selamanya: melarikan diri. 

Patrick Bet-David dan keluarganya meninggalkan segala yang mereka miliki. Mereka menghabiskan dua tahun di kamp pengungsi di Erlangen, Jerman Barat—menunggu, berharap, bermimpi tentang masa depan yang lebih baik. 

Pada November 1990, akhirnya mereka tiba di Amerika Serikat, menetap di Glendale, California. Patrick tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik. Keluarganya miskin. Tidak ada koneksi. Tidak ada jaminan. 

Setelah lulus SMA dengan nilai buruk (1.8 GPA—hampir tidak lulus), Patrick bergabung dengan US Army dan bertugas di 101st Airborne Division, salah satu unit paling elite. Setelah keluar dari militer, dia mencoba berbagai pekerjaan—menjual keanggotaan gym di Bally Total Fitness, bekerja di Morgan Stanley tepat sebelum serangan 9/11. 

Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang mengindikasikan dia akan menjadi luar biasa. 

Tapi Patrick punya sesuatu yang tidak dimiliki kebanyakan orang: kemampuan untuk berpikir beberapa langkah ke depan. 

Pada usia belum 30 tahun, dia mendirikan PHP Agency—perusahaan asuransi jiwa dan jasa keuangan. Dalam 10 tahun, perusahaan itu tumbuh menjadi lebih dari 12.000 agen di 49 negara bagian. 

Dia juga mendirikan Valuetainment—channel YouTube untuk entrepreneur yang sekarang memiliki jutaan subscriber dan lebih dari satu miliar views. 

Bagaimana anak pengungsi yang tidak bisa bahasa Inggris, dengan nilai sekolah buruk, tanpa koneksi atau modal, membangun semua ini?

Jawabannya ada dalam satu skill fundamental: kemampuan berpikir lima langkah ke depan, seperti grand master catur. 

Dan inilah yang Patrick ajarkan dalam bukunya, "Your Next Five Moves."

 


1 dari 9