Ukuran teks
18

Percakapan yang Tidak Terjadi

Bayangkan ini: Anda sedang makan malam dengan teman lama yang tidak bertemu sudah bertahun-tahun. 

Dia mulai bercerita tentang sesuatu yang penting baginya—mungkin tentang perceraiannya, mungkin tentang penyakit ayahnya, mungkin tentang karir yang sedang goyah. 

Dan Anda... Anda mengangguk sambil melirik ponsel yang bergetar di meja. Mata Anda mengikuti gerakan di latar belakang. Otak Anda sudah menyusun respons sebelum dia selesai bicara. 

Ketika dia berhenti—akhirnya mengambil napas—Anda langsung berkata: "Oh, aku tahu rasanya! Waktu aku..." 

Dan kemudian Anda mengambil alih percakapan. Cerita Anda. Pengalaman Anda. Masalah Anda. 

Teman Anda diam. Tersenyum kecil. Mengangguk. Dan makan dalam keheningan. Percakapan selesai—tapi tidak ada yang benar-benar didengarkan. 

Ini bukan cerita tentang teman yang buruk. Ini cerita tentang semua kita. 

Kate Murphy, jurnalis pemenang penghargaan dari New York Times, menghabiskan bertahun-tahun mewawancarai ratusan orang—dari agen CIA, negosiator sandera, terapis pernikahan, hingga bartender dan penata rambut—untuk mencari tahu satu hal: 

Mengapa kita semua menjadi sangat buruk dalam mendengarkan?

Dan yang lebih penting: Apa yang kita lewatkan karena itu? 

Jawabannya mengejutkan—dan mendesak. Karena krisis mendengarkan yang kita alami sekarang bukan hanya membuat percakapan menjadi dangkal. Ini merusak hubungan, menghambat karir, memecah keluarga, dan bahkan mengancam demokrasi.

Tapi ada kabar baik: Mendengarkan adalah keterampilan. Dan setiap keterampilan bisa dipelajari. 

Mari kita mulai.

 


1 dari 10