Ukuran teks
18

Suara Burung yang Tidak Ada

Pagi itu, Toru Okada sedang merebus spageti. 

Bukan hal yang luar biasa. Pria berusia 30 tahun, menganggur, istri sedang bekerja. Hari Selasa biasa di Tokyo suburban. Musik mengalun lembut dari radio. Air mendidih. Kehidupan yang sangat, sangat normal. 

Lalu telepon berdering. 

Dia angkat. Tidak ada yang bicara—hanya suara napas seorang wanita, dalam dan sensual, seperti mencoba menyampaikan sesuatu tanpa kata-kata. Kemudian sambungan terputus. 

Aneh. Tapi belum terlalu aneh. 

Lalu kucingnya hilang. Seekor kucing belang bernama Noboru Wataya (nama yang sama dengan kakak iparnya yang dibenci). Kumiko—istrinya—meminta dia mencarinya. Kucing itu penting baginya, meskipun Toru tidak pernah benar-benar mengerti mengapa. 

Jadi dia mencari. Di gang-gang sempit. Di rumah-rumah kosong. Di taman yang terlupakan.

Dan di sinilah semuanya mulai... retak

Di salah satu rumah kosong, Toru mendengar suara—seperti burung yang sedang memutar pegas, crik-crik-crik, suara mekanis yang tidak seharusnya ada di dunia organik. Suara yang membuat waktu terasa berhenti. Suara yang membuat realitas terasa tipis. 

Tidak ada burung. Tidak ada yang bisa menjelaskan suara itu. 

Tapi sejak saat itu, setiap kali dia mendengar suara burung pegas itu, sesuatu berubah. Sesuatu retak dalam kain realitas—dan Toru Okada, pria paling biasa di Tokyo, akan jatuh melalui retakan itu ke dalam labirin yang tidak pernah dia bayangkan. 

Inilah "The Wind-Up Bird Chronicle"—novel Haruki Murakami yang menanyakan: Apa yang terjadi ketika kehidupan normal Anda tiba-tiba berhenti masuk akal?

 


1 dari 12