Dua Ayah, Dua Cara Pandang
Tahun 1985. Robert Kiyosaki dan istrinya, Kim, tidur di dalam mobil Toyota tua mereka. Jok yang bisa direbahkan menjadi tempat tidur sementara. Kartu kredit habis. Tabungan menipis. Mereka tidak punya rumah. Tidak punya pekerjaan.
Seorang teman yang akhirnya mengetahui situasi mereka menawarkan ruang di basement. Mereka tinggal di sana selama sembilan bulan. Di permukaan, mereka terlihat normal. Tapi di dalam, mereka berjuang.
Setiap kali keluarga atau teman tahu, pertanyaannya selalu sama: "Kenapa kalian tidak cari kerja saja?"
Robert mencoba menjelaskan. Tapi kebanyakan orang tidak mengerti.
Dua puluh tahun sebelumnya, Robert tumbuh dengan dua figur ayah yang sangat berbeda. Ayah kandungnya—yang disebutnya "Poor Dad"—adalah profesor berpendidikan Ph.D dari Stanford. Orang pintar. Pekerja keras. Tapi selalu kesulitan dengan uang.
Ayah sahabatnya—yang disebutnya "Rich Dad"—hanya lulus SMP. Tapi dia menjadi salah satu pengusaha terkaya di Hawaii.
"Saya menyadari," tulis Robert, "bahwa ayah kandung saya miskin bukan karena jumlah uang yang dia hasilkan—yang cukup signifikan—tapi karena cara berpikir dan tindakannya."
Poor Dad selalu mengatakan: "Sekolah yang bagus, dapat pekerjaan yang bagus, bekerja keras, menabung, keluar dari utang, investasi jangka panjang di saham."
Rich Dad berkata sebaliknya: "Pendidikan finansial sejati tidak diajarkan di sekolah. Kamu harus belajar bahasa uang. Kamu harus tahu perbedaan antara aset dan liabilitas. Kamu harus membuat uang bekerja untukmu, bukan kamu bekerja untuk uang."
Ketika Robert dan Kim tidur di mobil itu, mereka sedang memilih jalan Rich Dad. Mereka menolak "keamanan" pekerjaan untuk membangun aset. Mereka menolak gaji tetap untuk kebebasan finansial.
Dunia pikir mereka gila. Tapi beberapa tahun kemudian, Robert pensiun di usia 47 tahun. Tidak karena dia menabung gaji. Tapi karena aset-asetnya menghasilkan lebih dari cukup untuk hidup.
Inilah kisah mengapa yang kaya makin kaya—dan mengapa pendidikan finansial yang diajarkan di sekolah justru membuat orang terdidik menjadi miskin.