Pengakuan Seorang Penulis
Tahun 1946. Perang Dunia II baru saja berakhir. George Orwell—penulis "Animal Farm" yang baru saja sukses besar—duduk di mejanya untuk menulis sesuatu yang sangat berbeda dari biasanya.
Bukan novel. Bukan reportase. Bukan kritik politik.
Dia menulis tentang dirinya sendiri.
Orwell, pria yang terkenal dengan kritik tajam terhadap totalitarianisme, yang mengajarkan jutaan orang untuk curiga terhadap propaganda—sekarang membedah motif-motifnya sendiri dengan kejujuran yang brutal.
Dia menulis essay berjudul "Why I Write"—Mengapa Saya Menulis.
Dan kalimat pembukaannya langsung mengejutkan:
"Dari usia yang sangat muda, mungkin lima atau enam tahun, saya tahu bahwa ketika saya dewasa, saya akan menjadi penulis."
Tidak ada keraguan. Tidak ada "mungkin" atau "semoga." Hanya kepastian yang tegas dari seorang anak kecil yang bahkan belum bisa mengeja dengan benar.
Tapi kemudian dia menambahkan sesuatu yang lebih mengejutkan lagi:
"Antara usia sekitar tujuh belas dan dua puluh empat tahun, saya mencoba meninggalkan gagasan ini, dengan kesadaran bahwa saya melanggar sifat sejati saya."
Bayangkan itu. Tujuh tahun dari hidupnya—masa muda yang seharusnya produktif—dihabiskan untuk melawan takdirnya sendiri. Mencoba menjadi orang lain. Mencoba melarikan diri dari apa yang dia tahu dia dilahirkan untuk lakukan.
Mengapa?
Karena Orwell tidak menulis untuk alasan yang mulia. Setidaknya tidak di awal. Dan dalam essay ini, dia akan mengakui motif-motif yang membuat kebanyakan penulis tidak nyaman untuk diakui.
Ini bukan essay tentang panggilan suci menulis. Ini adalah pembedahan brutal tentang ego, ambisi, obsesi, dan terkadang—hanya terkadang—sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.
Mari kita mulai dari awal.