Ukuran teks
18

Pensiunan yang Kehilangan Segalanya

Bayangkan ini: Anda bekerja 30 tahun di perusahaan yang sama. Setiap bulan, gaji Anda dipotong untuk dana pensiun. Perusahaan menjanjikan Anda akan menerima 70% dari gaji terakhir setiap bulan setelah pensiun. 

Anda percaya. Anda berencana. Anda membayangkan masa tua yang tenang—travelling, bermain dengan cucu, hobi yang selama ini tertunda. 

Lalu hari pensiun tiba. Anda duduk di kantor HR, menandatangani dokumen terakhir. Kepala HR tersenyum canggung. "Ada kabar buruk," katanya. "Dana pensiun Anda underfunded. Anda hanya akan menerima 40% dari yang dijanjikan. Mungkin kurang. Maaf." 

Dunia Anda runtuh. 30 tahun. Jutaan rupiah dipotong dari gaji. Kemana perginya uang itu? 

Inilah pertanyaan yang Robert Kiyosaki dan Edward Siedle ajukan—dan jawabannya akan membuat Anda marah. 

Krisis yang Tidak Ada di Berita 

Menurut Siedle—mantan pengacara SEC yang menghabiskan 40 tahun menginvestigasi penipuan pensiun—lebih dari $3 trilyun telah dicuri atau hilang dari dana pensiun di Amerika Serikat saja. 

Bukan dalam satu kasus korupsi besar. Tapi dalam ribuan transaksi kecil yang "legal"—fee yang tersembunyi, komisi yang berlebihan, investasi buruk yang menguntungkan manajer tapi merugikan pensiunan. 

Dan ini tidak hanya terjadi di Amerika. Ini adalah krisis global.

Di Indonesia, dana pensiun BUMN mengalami defisit trilyunan. Di UK, perusahaan-perusahaan besar bangkrut meninggalkan dana pensiun yang kosong. Di Jepang, sistem pensiun pemerintah terancam kolaps karena populasi menua. 

Yang paling menakutkan? Kebanyakan orang tidak tahu sampai terlambat. 

Kiyosaki menulis buku ini bukan untuk menakut-nakuti. Tapi untuk membangunkan. Karena seperti yang dia selalu katakan: 

"Jika Anda tidak tahu apa yang terjadi dengan uang Anda, orang lain sedang mengambilnya." 

Mari kita bongkar sistem ini.

 


1 dari 10