Ukuran teks
18

Pagi yang Seharusnya Menjadi Akhir

1 Januari 1975. Pukul 6 pagi. 

Archie Jones duduk di dalam mobil tuanya—sebuah Austin yang sudah lebih tua dari pernikahannya yang baru saja berakhir—dengan selang dari knalpot masuk ke jendela. 

Ini adalah upaya bunuh dirinya. Terencana. Metodis. Seperti segala sesuatu yang dilakukan Archie—pria Inggris biasa yang hidupnya begitu biasa sehingga bahkan untuk mati pun dia harus minta izin dulu. 

Dia sudah menulis surat. Sudah memilih tempat yang tepat—di belakang halal butcher tua, jauh dari keramaian. Sudah memastikan tangki bensin penuh. Tinggal menunggu. 

Tapi kemudian—bang! Bang! Bang!—pintu mobil diketuk keras. 

Mo Hussein-Ishmael, pemilik toko daging halal, marah besar. "Apa yang kamu lakukan di sini? Ini properti pribadi! Selain itu, kamu tidak bisa bunuh diri di tempat yang melayani daging halal! Ini tidak higienis! Keluar!" 

Dan begitulah Archie Jones diselamatkan—bukan oleh keajaiban ilahi, bukan oleh kesadaran mendalam tentang makna hidup, tapi karena dia parkir di tempat yang salah. 

Ironi ini—antara niat besar dan hasil absurd—adalah inti dari "White Teeth," novel brilian Zadie Smith tentang kehidupan, identitas, dan bagaimana kita semua hanya mencoba bertahan di dunia yang tidak pernah benar-benar masuk akal. 

Setelah diselamatkan oleh tukang daging yang marah, Archie melakukan apa yang akan dilakukan pria Inggris biasa: dia melempar koin. Heads, dia akan makan sarapan besar. Tails, dia akan mencoba bunuh diri lagi. 

Koin mengatakan heads.

Jadi Archie pergi makan. Dan di sana, di kafe murahan di Cricklewood, London utara, dia bertemu Clara Bowden—wanita Jamaika cantik setengah usianya dengan gigi depan yang patah. 

Enam minggu kemudian, mereka menikah. 

Ini adalah awal dari kisah tentang dua keluarga—Jones dan Iqbal—yang hidupnya terjalin di London multikultural, mencoba memahami siapa mereka di negara yang bukan rumah mereka, menciptakan identitas dari kepingan masa lalu yang tidak utuh, dan mewariskan beban sejarah kepada anak-anak yang tidak pernah memintanya. 

Mari kita mulai.

 


1 dari 11