Ukuran teks
18

Di Tengah Reruntuhan

Suatu hari, hidup Anda berjalan normal. Anda punya pekerjaan, hubungan, rutinitas. Semuanya masuk akal. Anda tahu siapa Anda dan ke mana Anda pergi. 

Lalu tiba-tiba, semuanya runtuh. 

Mungkin pasangan Anda mengumumkan ingin bercerai. Mungkin Anda kehilangan pekerjaan yang sudah Anda jalani bertahun-tahun. Mungkin diagnosa medis yang mengubah segalanya. Mungkin kematian seseorang yang sangat Anda cintai. 

Atau mungkin bukan satu peristiwa besar—hanya perasaan samar bahwa hidup yang Anda bangun dengan hati-hati mulai retak, dan Anda tidak tahu bagaimana menghentikannya. 

Dalam momen seperti ini, apa yang biasanya kita lakukan? 

Kita panik. Kita mencari sesuatu—apa saja—untuk membuat kita merasa aman lagi. Kita makan berlebihan. Kita belanja impulsif. Kita tenggelam dalam alkohol atau Netflix atau media sosial. Kita menyalahkan orang lain. Kita menyalahkan diri sendiri. Kita membuat rencana obsesif untuk "memperbaiki" semuanya. 

Kita melakukan apa pun untuk tidak merasakan apa yang sedang kita rasakan. 

Tapi Pema Chödrön—biksu Buddhist Amerika dan guru meditasi yang telah mengajar puluhan tahun—menawarkan jalan yang berbeda. Jalan yang paradoks. Jalan yang pada awalnya terdengar gila: 

Jangan lari dari reruntuhan. Duduk di tengahnya. 

Buku "When Things Fall Apart" lahir dari pengalaman pribadinya sendiri. Pada usia 30-an, pernikahan yang dia pikir akan bertahan selamanya hancur ketika suaminya mengumumkan dia jatuh cinta dengan wanita lain. Dalam sekejap, seluruh identitasnya—sebagai istri, sebagai wanita yang dicintai—runtuh.

Dan di tengah kehancuran itu, dia menemukan sesuatu yang mengubah hidupnya: ketika kita berhenti lari dari penderitaan, kita menemukan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada kebahagiaan yang kita kejar. 

Ini bukan buku tentang "berpikir positif" atau "menemukan hikmah di balik musibah." Ini buku tentang sesuatu yang lebih radikal: menerima bahwa kehidupan itu rapuh, tidak pasti, dan menyakitkan—dan justru di situlah kebebasan sejati berada. 

Mari kita mulai dengan pertanyaan yang mungkin pernah Anda tanyakan pada diri sendiri: Mengapa saya terus menderita?

 


1 dari 10