Ukuran teks
18

Telepon di Bandara yang Mengubah Sejarah

Bayangkan ini: Anda baru saja menikah. Bulan madu yang sempurna di Bahamas. Sepuluh hari tanpa pikiran tentang pekerjaan, tanpa stres, tanpa tekanan dunia luar. 

Sekarang Anda di bandara kecil Nassau, menunggu penerbangan pulang ke New York. Hidup terasa sempurna. Masa depan terasa cerah. 

Lalu telepon berdering. 

"Graydon, kamu di mana?" suara David, wakil editor Anda, terdengar panik di seberang line. 

Dan tiba-tiba Anda ingat: hari ini, 31 Mei 2005, adalah hari paling penting dalam sejarah jurnalisme Amerika dalam 30 tahun terakhir. 

Hari ini majalah Anda, Vanity Fair, mengungkap identitas "Deep Throat"—sumber rahasia yang membantu Bob Woodward dan Carl Bernstein membongkar skandal Watergate dan menumbangkan Presiden Nixon. 

Selama puluhan tahun, identitas Deep Throat adalah misteri paling besar dalam jurnalisme Amerika. Ribuan artikel ditulis. Ratusan teori diperdebatkan. Film dibuat. Buku diterbitkan. 

Dan sekarang Anda yang mengungkapnya. 

Tapi Anda terjebak di bandara kecil dengan WiFi yang lambat, menonton scoop terbesar karir Anda dari jauh, seperti menonton final Piala Dunia lewat radio. 

Inilah hidup Graydon Carter—selalu di tengah-tengah sejarah yang sedang terjadi, tapi kadang dari tempat yang paling tidak terduga. 

Ini adalah kisah tentang bagaimana anak biasa-biasa saja dari pedalaman Kanada menjadi salah satu editor paling berpengaruh di dunia. Bagaimana dia membangun majalah yang mendefinisikan budaya Amerika selama seperempat abad. Bagaimana dia hidup di era terakhir ketika majalah cetak adalah raja—sebelum internet mengubah segalanya.

Mari kita mulai dari awal. Dari kota kecil di Kanada di mana tidak ada yang pernah membayangkan bahwa anak laki-laki biasa bernama Graydon Carter suatu hari akan menjadi orang yang menentukan siapa yang masuk sampul majalah paling bergengsi di Amerika.

 


1 dari 10