Ukuran teks
18

Pertanyaan yang Tidak Bisa Ditunda Lagi

Bayangkan ini: Anda berusia 36 tahun. Sehat. Bugar. Di puncak karir.

Anda baru saja menyelesaikan residensi 7 tahun sebagai ahli bedah saraf—salah satu spesialisasi paling menuntut di dunia medis. Anda telah melakukan ribuan operasi otak. Menyelamatkan ratusan nyawa. Memegang kehidupan dan kematian di tangan Anda.

Masa depan cerah terbentang di depan: posisi profesor di Stanford, penelitian yang menjanjikan, keluarga yang Anda cintai.

Lalu dalam satu CT scan, segalanya berubah.

Paru-paru Anda dipenuhi tumor. Tulang belakang Anda penuh dengan lesi kanker. Stadium 4. Tidak ada obat.

Dalam sekejap, Anda bukan lagi dokter yang memberikan diagnosis. Anda adalah pasien yang menerima vonis kematian.

Ini adalah kisah Paul Kalanithi.

Seorang ahli bedah saraf brilian yang menghabiskan hidupnya mempelajari otak manusia, pikiran, dan kesadaran—hanya untuk menghadapi pertanyaan paling fundamental dari semua: Apa yang membuat hidup layak dijalani ketika kematian sudah pasti?

"When Breath Becomes Air" adalah memoarnya. Ditulis dalam bayang-bayang kematian. Diselesaikan delapan bulan sebelum dia meninggal pada Maret 2015, meninggalkan seorang istri dan putri berusia 8 bulan.

Ini bukan buku tentang kanker. Ini bukan buku tentang kematian.

Ini adalah buku tentang hidup—dan bagaimana menghadapi mortalitas kita yang terbatas dengan keberanian, makna, dan cinta.

Mari kita mulai perjalanan ini.

 


1 dari 11