Sebuah Puisi yang Pernah Dibacakan Sekali
Bayangkan sebuah karya seni yang begitu agung, begitu sempurna, sehingga hanya didengar oleh tujuh orang—satu malam—lalu lenyap selamanya.
Tidak ada rekaman. Tidak ada salinan. Tidak ada catatan.
Hanya ingatan tujuh orang yang hadir di meja makan itu. Dan ingatan manusia, seperti yang kita semua tahu, sangat tidak bisa dipercaya.
Itulah "A Corona for Vivien"—mahkota puisi karya Francis Blundy, penyair terbesar di zamannya. Lima belas soneta yang saling sambung-menyambung, dibacakan dengan suara lantang pada malam ulang tahun ke-54 istrinya, Vivien, di sebuah rumah pedesaan di Oxford pada tahun 2014. Lalu satu-satunya salinan tertulis—ditulis tangan di atas vellum (kulit tipis yang digunakan sebagai kertas mewah)—diserahkan kepada Vivien sebagai hadiah.
Dan Vivien tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya.
Ketika Francis meninggal, ketika Vivien meninggal, ketika semua yang hadir malam itu meninggal—puisi itu ikut menghilang.
Atau begitulah yang dipercaya semua orang.
Sekarang tahun 2119. Seratus tahun telah berlalu. Inggris tidak lagi berbentuk satu daratan—banjir besar yang disebabkan perubahan iklim dan pecahan perang nuklir telah mengubahnya menjadi gugusan kepulauan. Kota-kota besar tenggelam. Sebagian umat manusia masih hidup, meski dalam kondisi yang jauh lebih miskin, lebih keras, lebih tidak pasti.
Dan di tengah dunia yang setengah tenggelam itu, seorang sejarawan bernama Thomas Metcalfe masih terobsesi dengan sebuah puisi yang tidak pernah dia baca.
Ian McEwan menulis "What We Can Know" (Apa yang Bisa Kita Ketahui) sebagai pertanyaan yang sederhana namun menggetarkan:
Seberapa banyak yang sebenarnya bisa kita ketahui—tentang masa lalu, tentang orang lain, tentang kebenaran di balik sebuah karya seni?
Dan jawabannya, ternyata, jauh lebih sedikit dari yang kita kira.