Miliarder yang Menangis
Tahun 2019. Robin Sharma duduk di restoran mewah di Dubai bersama seorang miliarder—sebut saja Marcus—yang baru saja menjual perusahaannya senilai $2.3 miliar.
Semua orang akan berpikir Marcus adalah pria paling beruntung di dunia. Yacht pribadi. Jet pribadi. Rumah di lima negara. Kekayaan yang tidak akan habis dalam tujuh generasi.
Tapi di tengah makan malam, Marcus tiba-tiba terdiam. Matanya berkaca-kaca.
"Robin, boleh aku jujur? Aku tidak bahagia. Sama sekali."
Sharma tidak terkejut. Dia sudah bertemu puluhan orang seperti Marcus—kaya secara finansial, miskin dalam segala hal lainnya.
"Aku punya uang lebih dari yang bisa aku habiskan," lanjut Marcus. "Tapi kesehatan ku hancur. Dokter bilang aku bisa kena serangan jantung kapan saja. Aku tidak tidur nyenyak sejak bertahun-tahun lalu.
Pernikahan ku sudah dingin. Anak-anak ku tidak mengenal ku—mereka hanya tahu aku sebagai mesin ATM yang memberikan kartu kredit. Aku tidak punya teman sejati, semua orang di sekitar ku ada karena uang.
Dan yang paling menyakitkan? Aku tidak ingat terakhir kali aku merasa... hidup. Benar-benar hidup."
Marcus menatap Sharma dengan mata penuh keputusasaan. "Untuk apa semua uang ini kalau aku merasa seperti orang paling miskin di dunia?"
Momen itu mengubah segalanya untuk Sharma. Dia menyadari: Dunia punya definisi kekayaan yang salah total.
Kita sudah diprogram untuk percaya bahwa kaya = banyak uang. Tapi ada delapan bentuk kekayaan lain—yang jauh lebih berharga—yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan rekening bank.
Dan kebanyakan orang mengejar satu bentuk kekayaan (uang) sambil mengorbankan tujuh lainnya—sampai mereka menyadari, di akhir hidup, bahwa mereka telah membuat trade terbodoh dalam sejarah manusia.
Buku ini adalah manifesto untuk kehidupan yang berbeda. Kehidupan yang benar-benar kaya.
Mari kita mulai.