Bayi yang Hampir Dibakar
Bayangkan seorang bayi baru lahir, berumur beberapa jam, dibungkus dalam selimut tipis dan dibuang ke tempat sampah.
Bukan tempat sampah biasa—tempat sampah sekolah yang sampahnya akan dibakar di insinerator. Bayi itu akan mati terbakar bersama kertas-kertas bekas dan sisa-sisa makanan.
Ini bukan cerita fiksi. Ini bukan dongeng menakutkan.
Ini adalah kisah nyata yang terjadi tahun 1959 di St. Joseph's Mission School—salah satu dari ratusan residential school di Kanada yang dirancang untuk "membunuh Indian dalam diri anak."
Bayi itu adalah Ed Archie NoiseCat.
Ayah dari Julian Brave NoiseCat.
Seorang penjaga malam menemukan bayi itu masih hidup—menangis lemah, kedinginan, hampir mati. Dia menyelamatkan bayi yang kemudian akan menjadi seniman terkenal, ayah yang kompleks, dan simbol dari betapa rapuhnya kehidupan Indigenous.
Julian Brave NoiseCat tumbuh tanpa mengetahui cerita kelahiran ayahnya sampai dia dewasa. Ketika dia akhirnya mengetahuinya, segalanya mulai masuk akal—trauma yang tidak pernah dipbicarakan, kemarahan yang tidak bisa dijelaskan, kekosongan yang mengikuti ayahnya sepanjang hidup.
"We Survived The Night" adalah kisah tentang bagaimana trauma bisa melompat dari generasi ke generasi seperti api yang tidak pernah padam. Tapi lebih dari itu, ini adalah kisah tentang bagaimana cinta, budaya, dan cerita bisa menjadi obat untuk luka yang tampak tidak bisa sembuh.
Ini adalah "Coyote Story"—cerita tentang sang trickster, leluhur spiritual bangsa Salish, yang merupakan sekaligus pencipta dan penghancur, bijaksana dan tolol, pahlawan dan pecundang.
Seperti Coyote, ayah Julian adalah semua itu sekaligus.
Dan seperti Coyote, mereka bertahan. Mereka selamat dari malam itu—dan malam-malam setelahnya.
Mari kita mulai perjalanan ini.