Suara dari Pulau yang Membeku
Bayangkan Anda menerima telepon tengah malam.
Suara di ujung sana terdengar lemah, nyaris berbisik. Teman terbaik Anda. Orang yang telah Anda kenal lebih dari separuh hidup Anda.
"Saya tidak akan sembuh kali ini," katanya dengan tenang, seolah membicarakan cuaca.
Anda ingin membantah. Ingin mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja. Bahwa ini hanya satu lagi dari banyak badai yang akan dia lewati.
Tapi Anda berdua tahu kebenarannya: kali ini berbeda.
Dan kemudian dia bercerita tentang pulau—Jeju, tempat kelahirannya. Tentang salju yang jatuh di musim dingin. Tentang burung-burung yang datang dan pergi. Tentang ibu dan kakaknya yang meninggal bertahun-tahun lalu dalam kecelakaan.
Dan tentang sesuatu yang lebih gelap, lebih tua, lebih dalam: tentang darah yang pernah mengalir di pulau itu 70 tahun yang lalu, ketika ribuan orang dibunuh dalam tragedi yang nyaris dilupakan oleh sejarah.
Ini adalah titik awal dari "We Do Not Part"—novel terbaru Han Kang, penulis Korea Selatan yang memenangkan Nobel Sastra 2024.
Buku ini bukan tentang plot yang dramatis atau twist yang mengejutkan. Ini adalah meditasi tentang kehilangan—kehilangan orang yang dicintai, kehilangan sejarah, kehilangan bahkan kemampuan untuk berduka dengan utuh.
Han Kang menulis dengan bahasa yang lembut seperti salju, tapi menusuk seperti es. Dia membawa kita ke dalam perjalanan antara yang hidup dan yang mati, antara masa kini dan masa lalu, antara ingatan dan pelupaan.
Dan di pusat semuanya adalah pertanyaan yang menghantui: Bagaimana kita hidup dengan kehilangan yang tidak pernah benar-benar selesai?
Mari kita mulai.