Hari Ketika "Normal" Mati
Tahun 1955. Amerika Serikat.
Jika Anda ingin membeli mobil, Anda punya tiga pilihan: Ford, Chevrolet, atau Plymouth. Semua sedan hitam atau putih. Tidak ada pilihan warna lain. Tidak ada customization. Anda terima apa adanya.
Jika Anda ingin menonton TV, ada tiga channel. Semua orang menonton acara yang sama. Keesokan harinya di kantor, semua orang membicarakan episode yang sama karena—ya—semua orang menontonnya.
Jika Anda berbelanja baju, ada ukuran S, M, L, XL. Titik. Jika tubuh Anda tidak pas, Anda yang harus menyesuaikan—bukan baju.
Ini adalah era mass market—era di mana bisnis berkembang dengan membuat satu produk untuk semua orang, dan semua orang diharapkan menyukainya.
Henry Ford terkenal berkata: "Pelanggan bisa punya mobil warna apa saja yang mereka mau—selama itu hitam."
Dan strategi itu berhasil. Spektakuler. Ford menjual jutaan mobil. Coca-Cola menjual miliaran botol dengan satu rasa. McDonald's menjual burger yang persis sama di seluruh dunia.
Kenapa berhasil? Karena pada masa itu, orang tidak punya pilihan.
Tapi sekarang?
Sekarang Anda bisa pesan mobil dengan 50 kombinasi warna dan interior yang berbeda. Anda bisa menonton dari jutaan video di YouTube kapan saja, bukan menunggu jadwal TV. Anda bisa custom baju sesuai ukuran tubuh Anda persis.
Dan inilah yang Seth Godin ingin katakan: "Normal" sudah mati. Era mass market berakhir. Dan kita semua—setiap dari kita—sekarang adalah weird (aneh/unik).
Tapi "weird" di sini bukan berarti buruk. Weird berarti berbeda. Berarti individual. Berarti tidak bisa dimasukkan ke dalam kotak rata-rata.
Dan pergeseran ini—dari normal ke weird—mengubah segalanya: cara bisnis beroperasi, cara kita bekerja, cara kita hidup.
Mari kita pahami revolusi ini.