Tangan yang Sama Mengasuh dan Menyakiti
Bayangkan tangan seorang ibu.
Tangan yang sama yang mengepang rambut putrinya dengan lembut di pagi hari—memutar, menganyam, membuat rapi—adalah tangan yang memukul di sore hari ketika anak itu "melanggar."
Tangan yang sama yang memijat punggung yang sakit, mengupas kacang pecan untuk makan malam keluarga, mengoleskan salep pada lutut yang terluka, adalah tangan yang mencubit keras ketika marah, menarik telinga ketika tidak sabar.
Tangan yang sama yang menggendong bayi di tengah malam, menyanyikan lagu pengantar tidur dengan suara serak kelelahan, adalah tangan yang kemudian—dengan air mata di mata—mengambil sabuk untuk "mendisiplinkan" anak yang sama.
Ini bukan kontradiksi. Ini adalah kenyataan.
Kenyataan yang telah diwariskan turun-temurun dalam keluarga-keluarga kulit hitam Amerika selama berabad-abad. Dari perkebunan kapas Louisiana hingga apartemen sempit di Houston. Dari masa perbudakan hingga era modern.
Cinta dan kekerasan, berjalan bergandengan tangan.
Sasha Bonét tumbuh mengenal paradoks ini dengan sangat intim. Dalam bukunya "The Waterbearers," dia menceritakan kisah tiga generasi perempuan dalam keluarganya—neneknya Betty Jean, ibunya Connie, dan dirinya sendiri—yang semua membawa warisan kompleks dari keibuan kulit hitam Amerika.
Tapi ketika Sasha melahirkan putrinya Sofia, dia mengambil keputusan: Dia akan memutus siklus ini.
Dia akan mengambil yang terbaik dari warisan itu—kekuatan, resiliensi, cinta tanpa batas—dan meninggalkan yang terburuk—kekerasan, trauma, rasa takut.
Buku ini adalah perjalanannya untuk memahami bagaimana cinta dan kekerasan bisa berpadu dalam satu tangan. Bagaimana perempuan yang begitu kuat bisa juga begitu terluka. Dan bagaimana mungkin memutus rantai trauma tanpa memutus rantai cinta.
Mari kita mulai dari awal. Dari perkebunan kapas Louisiana tahun 1933.