Ukuran teks
18

Pria yang Menolak Menjadi Raja

Bayangkan ini: Tahun 1783. Anda baru saja mengalahkan kekuatan militer terbesar di dunia—Inggris Raya. Anda adalah pahlawan nasional. Tentara mencintai Anda. Rakyat memujamu. Beberapa perwira bahkan menyarankan Anda menjadi raja—"Raja George I dari Amerika." 

Kekuasaan absolut ada di depan mata Anda. Ambil saja. 

George Washington mengatakan tidak. 

Di Annapolis, Maryland, pada 23 Desember 1783, Washington melakukan sesuatu yang hampir tidak pernah terjadi dalam sejarah manusia: seorang jenderal yang menang dalam perang revolusioner secara sukarela menyerahkan kekuasaannya. 

Dia berdiri di depan Kongres, tangannya gemetar saat membaca pidato pengunduran dirinya. Dia hanya ingin pulang ke Mount Vernon, ke istri dan kebunnya, ke kehidupan sebagai petani. 

Raja George III dari Inggris—musuhnya yang baru dikalahkan—mendengar berita ini dan berkata dengan kagum: "Jika dia benar-benar melakukan itu, dia akan menjadi manusia terbesar di dunia." 

Ini bukan mitos. Ini bukan legenda yang dilebih-lebihkan. Ini benar-benar terjadi. 

Tapi siapa sebenarnya George Washington? Bukan ikon di uang kertas. Bukan patung marmer tanpa ekspresi. Bukan dewa yang sempurna. 

Ron Chernow—sejarawan pemenang Pulitzer Prize—menghabiskan satu dekade menggali surat-surat pribadi, diary, dan dokumen untuk menemukan manusia sebenarnya di balik mitos. 

Dan yang dia temukan adalah seseorang yang jauh lebih menarik: seorang pria ambisius yang belajar mengendalikan ambisinya, seorang pemilik budak yang perlahan menyadari dosa perbudakan, seorang pemimpin yang terus-menerus meragukan dirinya sendiri—namun tetap maju.

 


1 dari 12