Ukuran teks
18

Lelaki yang Memilih Hutan daripada Kota

4 Juli 1845. Hari Kemerdekaan Amerika. 

Sementara seluruh negara merayakan kebebasan dengan pesta dan kembang api, seorang pria berusia 27 tahun berjalan sendirian ke dalam hutan dengan kapak di tangannya. 

Namanya Henry David Thoreau. Dan dia sedang melakukan sesuatu yang orang-orang di kota Concord, Massachusetts, anggap gila: dia akan membangun gubuk kecil di tepi Walden Pond dan hidup sendirian selama dua tahun. 

Tidak ada listrik. Tidak ada internet. Tidak ada toko. Tidak ada tetangga. 

Hanya dia, hutan, danau, dan pertanyaan yang menghantui: "Apakah kita benar-benar hidup? Atau hanya bertahan?" 

Thoreau melihat teman-temannya—orang baik, pekerja keras, bertanggung jawab—bangun pagi, bekerja sepanjang hari, pulang kelelahan, tidur, dan mengulanginya lagi. Untuk apa? Untuk membayar rumah yang terlalu besar. Mobil yang tidak mereka butuhkan. Pakaian untuk mengesankan orang yang tidak mereka pedulikan. 

Dia menyebutnya "quiet desperation"—keputusasaan yang sunyi. 

"Kebanyakan manusia," tulisnya, "menjalani kehidupan dalam keputusasaan yang sunyi. Apa yang disebut pasrah adalah keputusasaan yang dikonfirmasi." 

Jadi dia membuat eksperimen radikal: Bagaimana jika saya hidup dengan hanya apa yang benar-benar saya butuhkan? Bagaimana jika saya membuang semua yang tidak penting? Apa yang akan tersisa? 

Dia menemukan jawabannya di Walden Pond. 

Dan 170 tahun kemudian, jawaban itu masih mengubah cara orang memandang hidup.

Mari kita masuk ke hutan bersama Thoreau.

 


1 dari 10