Ukuran teks
18

Menahan Napas untuk Pria yang Salah

Bayangkan ini: Anda berusia 36 tahun. Sukses dalam karier. Rumah bagus. Mobil bagus. Pakaian desainer. Di atas kertas, hidup Anda sempurna. 

Tapi ada satu masalah: Anda menahan napas. 

Menahan napas menunggu pria yang berjanji akan meninggalkan istrinya—tapi tidak pernah melakukannya. 

Menahan napas menunggu suami yang ternyata lebih mencintai sekretarisnya yang berkulit putih daripada Anda yang telah mengorbankan karier untuk mendukungnya selama 11 tahun. 

Menahan napas menunggu pria yang tampan dan seksi akhirnya memperlakukan Anda seperti lebih dari sekadar wanita simpanan—tapi dia tidak pernah akan melakukannya. 

Menahan napas karena takut jika Anda melepaskan anak remaja Anda untuk tumbuh, Anda akan benar-benar sendirian. 

Dan suatu hari, Anda menyadari: Anda tidak bisa menahan napas selamanya. 

Suatu hari, Anda harus mengembuskan napas—melepaskan semua ekspektasi palsu, janji kosong, dan pria yang tidak layak—dan akhirnya bernapas untuk diri Anda sendiri. 

Ini adalah cerita Savannah, Bernadine, Robin, dan Gloria. 

Terry McMillan menulis "Waiting to Exhale" pada tahun 1992, dan buku ini mengubah lanskap sastra Amerika. Untuk pertama kalinya, wanita kulit hitam kelas menengah yang sukses, profesional, dan kompleks menjadi pusat cerita—bukan sebagai karakter pendukung, bukan sebagai stereotip, tetapi sebagai manusia utuh dengan mimpi, kekecewaan, dan kekuatan luar biasa. 

Ini bukan hanya cerita tentang mencari cinta. Ini cerita tentang mencari diri sendiri di dunia yang terus memberitahu Anda bahwa Anda tidak lengkap tanpa pria. 

Mari kita masuk ke Phoenix, Arizona, 1990—di mana empat wanita belajar bahwa kadang, hal terbaik yang bisa Anda lakukan adalah berhenti menunggu dan mulai hidup.

 


1 dari 10