Ukuran teks
18

Dua Kapal, Dua Cerita

Januari 1742. Pelabuhan Portsmouth, Inggris. 

Sebuah kapal compang-camping berlabuh. Awaknya—atau yang tersisa—turun dengan langkah goyah. Mereka lebih mirip hantu daripada pelaut. Kurus kering. Kulit terbakar. Mata cekung. Beberapa tidak bisa berjalan. 

Dari 140 orang yang berangkat, hanya 30 yang pulang. 

Mereka membawa cerita luar biasa: HMS Wager, kapal perang Inggris, karam di ujung dunia. Mereka bertahan di pulau terpencil selama berbulan-bulan. Melawan kelaparan, penyakit, dan suku pribumi. Membangun kapal dari reruntuhan. Berlayar ribuan mil melintasi lautan paling berbahaya di dunia. 

Mereka adalah pahlawan. 

Enam bulan kemudian, kapal lain tiba. 

Hanya tiga orang. Lebih kurus. Lebih hancur. Tapi mereka membawa cerita yang sangat berbeda. 

Mereka bilang: kelompok pertama adalah pemberontak. Penghianat. Mereka memberontak terhadap kapten, meninggalkan yang lain untuk mati, dan melarikan diri untuk menyelamatkan kulit mereka sendiri. 

Dua kelompok. Dua cerita. Keduanya mengklaim mereka yang benar. 

Hanya satu yang bisa jadi kebenaran. 

Atau mungkin tidak ada yang sepenuhnya benar? 

Inilah kisah HMS Wager—salah satu bencana maritim paling mengerikan dan paling kompleks dalam sejarah angkatan laut Inggris. Kisah tentang bagaimana peradaban runtuh ketika hukum tidak berlaku. Tentang bagaimana kebenaran bisa menjadi hal yang paling sulit untuk dipahami.

David Grann, jurnalis investigasi yang menulis bestseller "Killers of the Flower Moon," menghabiskan bertahun-tahun menggali arsip, jurnal, dan dokumen pengadilan untuk merekonstruksi apa yang sebenarnya terjadi. 

Dan seperti semua kisah terbaik, ini dimulai dengan impian akan kekayaan yang tak terbayangkan.

 


1 dari 12