Serangan di Muttur
22 Agustus 2006. Muttur, Sri Lanka.
Tujuh belas pekerja Action Against Hunger—sebuah organisasi kemanusiaan internasional—sedang bekerja di kantor mereka. Mereka datang untuk membantu penduduk setempat yang menderita akibat konflik berkepanjangan antara pemerintah Sri Lanka dan pemberontak Tamil Tigers.
Mereka tidak bersenjata. Mereka tidak berpihak. Mereka hanya membawa bantuan makanan, air, dan harapan untuk masyarakat yang terluka oleh perang.
Lalu sekelompok pria bersenjata masuk.
Dalam hitungan menit, tujuh belas orang itu ditembak mati. Eksekusi brutal. Tidak ada peringatan. Tidak ada negosiasi. Hanya peluru.
Berita ini mengguncang dunia kemanusiaan. Tapi yang lebih mengejutkan adalah ini: Mereka bukan yang pertama. Dan bukan yang terakhir.
Larissa Fast, peneliti keamanan kemanusiaan yang menghabiskan bertahun-tahun mempelajari kekerasan terhadap pekerja bantuan, mengungkap kebenaran yang mengganggu:
Pekerja kemanusiaan—dokter, perawat, distribusi makanan, ahli air bersih—yang dulunya dianggap "tidak tersentuh" di zona konflik, kini menjadi target.
Dari Afghanistan ke Somalia, dari Sudan ke Suriah, ceritanya sama: orang-orang yang datang untuk membantu justru diserang, diculik, dibunuh.
Mengapa ini terjadi? Dan yang lebih penting: Apa yang bisa dilakukan?
"The Vulnerable Humanitarian" bukan sekadar buku tentang statistik kematian. Ini adalah pembongkaran terhadap asumsi-asumsi lama tentang netralitas, keamanan, dan kerja kemanusiaan di abad ke-21.
Mari kita masuk ke dalam dunia yang berbahaya ini—dan memahami bagaimana melindungi mereka yang mencoba melindungi orang lain.