Lagu yang Tidak Pernah Dimainkan
Bayangkan Anda memutar album lama dari tahun 1980-an. Suara gitar yang distorsi. Drum yang keras. Vokal yang penuh gairah dan kemarahan muda.
Anda menutup mata dan tiba-tiba Anda kembali ke masa itu—ketika musik benar-benar berarti sesuatu. Ketika Anda masih percaya band Anda akan terkenal. Ketika masa depan terasa seperti kanvas kosong yang bisa dilukis dengan warna apa pun.
Lalu Anda membuka mata.
Anda di apartemen yang berantakan. Gitar Anda berdebu di sudut. Teman-teman band Anda sudah tidak berhubungan. Beberapa sudah menikah. Beberapa sudah menyerah pada musik. Satu atau dua sudah tidak ada di dunia ini.
Dan Anda menyadari: waktu telah mengalahkan Anda semua.
Inilah yang Jennifer Egan sebut "the goon squad"—pasukan preman. Bukan preman jalanan. Bukan penjahat bersenjata. Tapi sesuatu yang jauh lebih menakutkan dan tak terelakkan: waktu itu sendiri.
"A Visit from the Goon Squad" adalah novel yang memenangkan Pulitzer Prize—tapi jangan bayangkan novel biasa dengan plot linear dari awal sampai akhir. Ini adalah mozaik. Kolase. Playlist dari kehidupan yang saling terhubung, melompat maju-mundur dalam waktu, menunjukkan bagaimana kita semua adalah produk dari momen-momen yang kita alami dan orang-orang yang kita temui.
Di pusatnya ada dua karakter: Bennie Salazar, produser musik yang dulunya punk rocker idealis, sekarang pria paruh baya yang kehilangan arah. Dan Sasha, asistennya, seorang wanita muda dengan kebiasaan mencuri hal-hal kecil yang tidak dia butuhkan—mencoba mengisi kekosongan dalam hidupnya dengan objek yang tidak punya makna.
Tapi novel ini bukan tentang mereka saja. Ini tentang semua orang yang pernah mereka sentuh. Semua kehidupan yang saling berpotongan. Semua pilihan yang dibuat dan tidak dibuat.
Ini tentang kita semua—melawan waktu yang tidak bisa kita kalahkan.
Mari kita masuk ke dalam dunia ini. Tapi bersiaplah: waktu tidak akan bergerak lurus. Dan itulah maksudnya.