Ukuran teks
18

Surat dari Abad ke-18 yang Masih Berbicara Hari Ini

London, 1792. 

Seorang perempuan berusia 33 tahun duduk di meja kerjanya, pena di tangan, amarah di hati. Di luar jendela, Revolusi Perancis mengubah tatanan dunia. Orang-orang berbicara tentang "hak asasi manusia," "kebebasan," "kesetaraan." 

Tapi Mary Wollstonecraft melihat ironi yang menyakitkan: para filsuf dan revolusioner yang berbicara tentang kebebasan untuk semua manusia... tidak menganggap perempuan sebagai manusia yang setara. 

Jean-Jacques Rousseau, salah satu pemikir paling berpengaruh di Eropa, baru saja menulis bahwa perempuan harus dididik untuk menyenangkan pria. Bahwa kelemahan perempuan adalah natural dan menarik. Bahwa peran perempuan adalah menjadi hiasan cantik untuk pria yang rasional. 

Dan seluruh Eropa mengangguk setuju. 

Wollstonecraft tidak bisa diam lagi. 

Dalam waktu enam minggu—dengan kemarahan yang fokus dan kejelasan yang brilian—dia menulis "A Vindication of the Rights of Woman" (Pembelaan Hak-Hak Perempuan). 

Bukan sekadar protes. Ini adalah serangan intelektual yang sistematis terhadap seluruh struktur pemikiran yang menjadikan perempuan sebagai warga kelas dua. 

Argumennya sederhana namun radikal untuk zamannya: 

Perempuan bukan makhluk yang inferior secara intelektual. Mereka hanya dijadikan inferior melalui pendidikan yang sengaja melemahkan mereka.

Bayangkan keberanian yang dibutuhkan untuk menulis ini pada tahun 1792—ketika perempuan tidak boleh memilih, tidak boleh memiliki properti setelah menikah, tidak boleh mengakses pendidikan tinggi, dan bahkan tidak boleh makan malam dengan tamu laki-laki tanpa izin suami. 

Lebih dari 230 tahun kemudian, buku ini masih berbicara. Masih menantang. Masih relevan.

Mari kita dengarkan apa yang Mary Wollstonecraft ingin katakan kepada kita.

 


1 dari 13