Pagi yang Seharusnya Tidak Ada
11 November 1997. Ljubljana, Slovenia.
Veronika berusia 24 tahun. Cantik. Pintar. Punya pekerjaan yang baik di perpustakaan. Apartemen sendiri. Keluarga yang mencintainya. Pacar yang menginginkannya.
Dengan kata lain: dia punya segalanya yang "seharusnya" membuat seseorang bahagia.
Dan pagi itu, dia memutuskan untuk mati.
Bukan karena tragedi besar. Bukan karena depresi klinis. Bukan karena dia tidak punya pilihan.
Tapi justru karena dia punya terlalu banyak pilihan—dan tidak ada yang terasa penting.
Dia menelan empat kotak obat tidur. Berbaring di tempat tidur. Dan menunggu.
Tapi dia tidak mati.
Dia bangun di Villete—rumah sakit jiwa paling terkenal di Slovenia. Dan dokter memberitahu berita yang mengejutkan:
"Kamu akan mati dalam seminggu. Serangan jantungmu menyebabkan kerusakan permanen. Kematianmu pasti. Hanya masalah waktu."
Inilah ironi yang kejam: Veronika ingin mati. Tapi sekarang, menghadapi kematian yang pasti dalam hitungan hari, dia mulai merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya:
Keinginan untuk hidup.
Paulo Coelho menulis "Veronika Decides to Die" bukan sebagai glorifikasi bunuh diri. Ini adalah pertanyaan mendalam tentang apa artinya benar-benar hidup di dunia yang terobsesi dengan normalitas, conformity, dan bermain aman.
Ini adalah cerita tentang bagaimana menghadapi kematian—atau berpikir kita menghadapinya—bisa menjadi hal yang membebaskan kita untuk akhirnya, benar-benar, hidup.
Mari kita masuk ke Villete dan temukan apa yang Veronika temukan di sana.