Ukuran teks
18

Dua Wanita, Dua Dunia, Satu Persahabatan

Bayangkan Anda pernah cantik. Sangat cantik. 

Cantik sampai orang berhenti di jalan untuk melihat Anda. Cantik sampai fotografer berlomba-lomba ingin memotret Anda. Cantik sampai pintu-pintu terbuka hanya karena wajah Anda. 

Sekarang bayangkan semua itu hilang. 

Kecantikan memudar. Tubuh sakit. Uang habis. Karir berakhir. Dan Anda bekerja sebagai cleaning service, membersihkan toilet di gedung perkantoran San Francisco, tubuh Anda sakit karena Hepatitis C yang tidak ada obatnya. 

Ini adalah Alison—narator dari "Veronica", novel karya Mary Gaitskill. 

Tapi ini bukan cerita tentang kehilangan kecantikan. Ini adalah cerita tentang satu-satunya hal yang tidak pudar: persahabatan dengan seseorang yang tidak pernah cantik sejak awal. 

Veronica tidak pernah cantik. Dia kurus kering, wajahnya keras, pakaiannya aneh. Dia bekerja sebagai copy editor di agensi iklan—pekerjaan yang tidak glamor, gaji pas-pasan, tidak ada yang meliriknya. 

Tapi Veronica punya sesuatu yang tidak dimiliki Alison: dia tahu siapa dia, tanpa perlu cermin untuk memberitahunya. 

Ketika mereka berteman di New York tahun 1980-an—di tengah era AIDS yang menakutkan, di tengah dunia modeling yang superfisial, di tengah kota yang kejam—tidak ada yang mengira persahabatan ini akan menjadi hal paling penting dalam hidup Alison. 

Termasuk Alison sendiri. 

Bertahun-tahun kemudian, setelah Veronica meninggal karena AIDS, setelah kecantikan Alison hilang, setelah semua yang glamor menjadi debu—Alison menyadari satu hal:

Orang yang paling dia cintai adalah orang yang tidak pernah mempedulikan kecantikannya. 

Mari kita mulai.

 


1 dari 12