Ukuran teks
18

Mimpi yang Menghantuinya

Bayangkan Anda bermimpi tentang pemandangan yang sama berbulan-bulan. 

Senja. Ruangan kosong. Secarik kain sutra hitam di atas meja marmer. Air yang menggelap di luar. 

Tidak ada orang. Hening. Gelap. 

Mimpi yang sama, malam demi malam, kadang tiga malam berturut-turut. Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang bergerak. Hanya tableau yang sama—misterius, menakutkan, dan Anda tidak tahu mengapa. 

Ini adalah mimpi yang menghantui Evelyn Dolman berbulan-bulan sebelum dia pergi ke Venesia. 

Dan ketika dia akhirnya tiba di kota air itu—di bulan Desember 1899, di tengah kabut tebal yang menutupi kanal-kanal, di tengah dingin yang menembus tulang—dia menyadari sesuatu yang mengerikan: 

Mimpi itu bukan peringatan. Itu adalah undangan. 

Undangan ke dalam permainan yang telah dirancang untuknya. Perangkap yang telah disiapkan dengan sempurna. Labirintin yang tidak punya jalan keluar. 

Dan ketika istrinya menghilang—pagi setelah dia melakukan sesuatu yang tak termaafkan—Evelyn harus menghadapi pertanyaan yang akan menghancurkannya: 

Apakah dia sedang kehilangan akal? Atau apakah seseorang telah merencanakan semua ini sejak awal? 

Ini adalah kisah tentang seorang pria yang berpikir dia cukup cerdas untuk memanipulasi semua orang—tapi ternyata dia yang dimainkan sejak awal. 

Tentang kota yang memakan jiwa-jiwa yang datang mencari kekayaan.

Dan tentang kebenaran yang lebih mengerikan daripada kebohongan: Anda tidak pernah tahu siapa diri Anda sebenarnya sampai semua topeng dicopot. 

Mari kita mulai di London, di mana semuanya dimulai dengan pernikahan yang salah.

 


1 dari 10