Ukuran teks
18

Ketika Psikolog Bertemu Tuhan

Tahun 1901. Seorang profesor Harvard berusia 59 tahun berdiri di podium University of Edinburgh, menghadapi auditorium penuh akademisi, teolog, dan skeptis. 

Nama dia William James - pendiri psikologi modern Amerika, saudara novelis Henry James, salah satu pemikir paling berpengaruh di zamannya. 

Dan dia akan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan siapa pun: mengkaji agama bukan sebagai teolog, bukan sebagai pendeta, tetapi sebagai ilmuwan yang mempelajari pikiran manusia. 

Tapi bukan agama dalam pengertian biasa - bukan tentang gereja, ritual, atau doktrin. James tertarik pada sesuatu yang lebih mendasar, lebih pribadi, lebih misterius: 

Momen ketika seseorang merasa bertemu dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya. 

Momen ketika ateis tulen tiba-tiba "melihat cahaya" dan hidupnya berubah total. Ketika pecandu alkohol yang putus asa merasakan kekuatan yang membebaskannya. Ketika orang biasa mengalami sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata - dan tidak pernah sama lagi setelahnya. 

James mengumpulkan ratusan kesaksian dari orang-orang yang mengalami ini. Tidak peduli agama mereka - Kristen, Islam, Hindu, Buddha, atau tidak beragama sama sekali. Yang penting adalah pengalaman itu sendiri. 

Dan dari penelitian mendalam ini, lahirlah "The Varieties of Religious Experience" - buku yang mengubah cara kita memahami spiritualitas, pikiran, dan makna hidup. 

James tidak bertanya: "Apakah Tuhan ada?"

Dia bertanya: "Apa yang benar-benar terjadi dalam pikiran dan jiwa seseorang ketika mereka percaya Tuhan ada?" 

Perbedaan ini mengubah segalanya.

 


1 dari 11