Ukuran teks
18

Dunia yang Hampir Hilang

Bayangkan sebuah rumah susun di Leeds, Inggris Utara, tahun 1930-an. 

Pagi hari. Asap dari cerobong pabrik memenuhi udara. Jalanan basah dari hujan semalam. Tapi di dalam rumah kecil dengan dua kamar itu, ada kehangatan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. 

Ibu sedang membuat teh kental. Bapak baru pulang dari shift malam di pabrik tekstil. Tetangga mengetuk pintu, meminjam sedikit gula—bukan karena mereka benar-benar butuh, tapi karena itu cara untuk memulai percakapan, untuk tetap terhubung. 

Tidak ada televisi. Tidak ada smartphone. Tidak ada supermarket besar. Kehidupan berpusat pada rumah, jalan, pub lokal, dan gereja atau balai komunitas. 

Orang-orang ini miskin. Tidak ada yang meragukan itu. Tapi mereka punya sesuatu yang sulit dibeli dengan uang: komunitas yang kuat, identitas yang jelas, dan cara hidup yang telah bertahan generasi. 

Richard Hoggart tumbuh di dunia ini. Dia anak yatim piatu yang dibesarkan nenek di lingkungan kelas pekerja Leeds. Dia menyaksikan langsung kehidupan orang-orang yang bekerja dengan tangan mereka, yang membaca koran tabloid, yang menyanyi di pub pada akhir pekan. 

Dan kemudian, pada tahun 1950-an, dia melihat dunia itu mulai berubah. 

Budaya massa komersial datang seperti gelombang: majalah sensasional, musik pop yang seragam, iklan yang menjanjikan kehidupan yang lebih baik jika Anda membeli produk tertentu. 

Pada pandangan pertama, ini tampak seperti kemajuan. Lebih banyak pilihan. Lebih banyak hiburan. Lebih banyak akses. 

Tapi Hoggart melihat sesuatu yang lebih gelap di baliknya: budaya yang kaya, rumit, dan otentik sedang digantikan oleh budaya yang dangkal, seragam, dan dirancang untuk menjual.

"The Uses of Literacy" adalah upaya Hoggart untuk mendokumentasikan dunia yang menghilang—dan untuk memperingatkan tentang apa yang kita kehilangan dalam proses ini. 

Ini bukan nostalgia romantis tentang "masa lalu yang indah." Hoggart sangat jelas tentang kemiskinan, keterbatasan, dan masalah kehidupan kelas pekerja. 

Tapi dia juga bertanya pertanyaan yang masih relevan hari ini: 

Ketika semua orang mengonsumsi budaya yang sama—lagu yang sama, cerita yang sama, nilai yang sama—apakah itu kebebasan atau bentuk baru penjajahan? 

Mari kita masuki dunia yang Hoggart gambarkan.

 


1 dari 10