Ukuran teks
18

Bumi yang Tidak Dapat Dihuni

Tahun 2050. 

Hanya 26 tahun dari sekarang. Seumur hidup anak yang lahir hari ini. 

Jakarta tidak lagi ada—tenggelam di bawah air laut. Miami adalah kota hantu, ditinggalkan setelah badai kelima dalam tiga tahun menghancurkan infrastruktur yang tersisa. India dan Pakistan baru saja mengalami gelombang panas yang membunuh 20 juta orang dalam satu musim panas. 

Ini bukan fiksi distopia. 

Ini adalah skenario yang sangat mungkin terjadi jika kita terus berada di jalur emisi karbon saat ini. 

David Wallace-Wells menulis "The Uninhabitable Earth" bukan untuk membuat kita panik. Dia menulis karena kita belum cukup panik. 

Selama puluhan tahun, gerakan lingkungan mencoba membuat pesan perubahan iklim terdengar "tidak terlalu menakutkan" agar orang tidak menyerah. Mereka berbicara tentang beruang kutub dan es di Arktik—sesuatu yang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari kita. 

Tapi Wallace-Wells berargumen: Kita perlu melihat kenyataan dengan mata terbuka. Karena kenyataannya jauh lebih buruk dari yang kita bayangkan—dan jauh lebih cepat. 

Ini bukan tentang "menyelamatkan planet." Bumi akan baik-baik saja. Bumi sudah bertahan melalui lima kepunahan massal. Dia akan bertahan lagi. 

Ini tentang menyelamatkan peradaban manusia seperti yang kita kenal. 

Buku ini adalah wake-up call yang paling brutal, paling jujur, dan paling penting yang pernah ditulis tentang krisis iklim.

Dan jika Anda merasa tidak nyaman membacanya, itu bagus. Karena ketidaknyamanan adalah awal dari tindakan. 

Mari kita mulai dengan kebenaran yang tidak nyaman.

 


1 dari 8