Dua Ayah, Dua Filosofi, Satu Pelajaran
Robert Kiyosaki tumbuh dengan keuntungan yang tidak biasa—dia punya dua ayah.
Ayah kandungnya adalah kepala departemen pendidikan negara bagian Hawaii. Pendidikan tinggi. Ph.D. Gaji bagus. Dihormati di masyarakat. Tapi selalu kesulitan dengan uang. Selalu bilang: "Aku tidak mampu beli itu." Bekerja keras seumur hidup tapi mati dengan utang dan hampir tidak ada warisan.
Ayah temannya (yang dia sebut Rich Dad) tidak pernah menyelesaikan SMA. Memulai dengan toko kecil. Tapi menjadi salah satu orang terkaya di Hawaii. Memiliki hotel, restoran, real estate, dan bisnis konstruksi. Dan yang paling penting: dia punya waktu dan kebebasan finansial.
Kedua ayah memberikan nasihat yang sangat berbeda:
Ayah miskin berkata: "Sekolah yang bagus, dapat nilai tinggi, cari pekerjaan yang aman dengan benefit bagus."
Ayah kaya berkata: "Sekolah itu penting, tapi tidak mengajarkan hal terpenting: bagaimana uang bekerja."
Di usia muda, Kiyosaki membuat keputusan: dia akan mendengarkan filosofi Rich Dad tentang uang, dan mengabaikan filosofi Poor Dad.
Keputusan itu mengubah hidupnya.
Puluhan tahun kemudian, setelah menjadi jutawan dan pensiun di usia 47 tahun, Kiyosaki menulis "Rich Dad Poor Dad"—buku yang menjual lebih dari 40 juta eksemplar dan mengubah cara jutaan orang berpikir tentang uang.
Tapi ada pertanyaan yang terus dia terima:
"Bagaimana caranya? Apa yang harus saya lakukan secara konkret?"
"Unfair Advantage" adalah jawabannya.
Buku ini bukan tentang motivasi atau mindset saja. Ini tentang sistem yang bisa Anda pelajari—keunggulan tidak adil yang digunakan orang kaya untuk tetap kaya, dan yang bisa Anda gunakan juga.
Tapi sebelum kita masuk ke lima keunggulan itu, kita perlu memahami mengapa mayoritas orang tidak akan pernah kaya—bukan karena mereka bodoh atau malas.
Tapi karena mereka bermain dalam permainan yang dirancang untuk membuat mereka kalah.