Ukuran teks
18

Pertanyaan yang Membuat Ruangan Diam

Tahun 1989. Sebuah aula kampus di Amerika. Noam Chomsky—profesor linguistik MIT yang telah menjadi kritikus kebijakan luar negeri AS paling tajam—berdiri di depan ratusan mahasiswa. 

Seorang mahasiswa mengangkat tangan: "Professor Chomsky, Anda selalu bilang media kita tidak bebas. Tapi ini Amerika. Tidak ada sensor pemerintah. Wartawan bebas menulis apa yang mereka mau. Bagaimana Anda bisa bilang kita tidak punya pers bebas?" 

Chomsky tersenyum tipis. Lalu dia bertanya balik: 

"Berapa banyak dari kalian yang tahu bahwa dalam empat tahun terakhir, Indonesia telah membantai 200.000 orang di Timor Timur—sepertiga dari populasi pulau itu?" 

Beberapa tangan terangkat. Mungkin 5 dari 200 orang. 

"Sekarang, berapa banyak yang tahu tentang pembantaian di Kamboja oleh Khmer Rouge?" Hampir semua tangan terangkat. 

"Menarik," kata Chomsky. "Kedua pembantaian terjadi di waktu yang sama. Kedua pembantaian mengerikan. Tapi ada satu perbedaan: Kamboja dibantai oleh musuh Amerika. Timor Timur dibantai oleh sekutu Amerika—dengan senjata Amerika." 

"Jadi tidak mengherankan media kita meliput Kamboja secara intensif—ratusan artikel, dokumenter, buku. Sementara Timor Timur? Hampir tidak ada liputan. Bukan karena sensor. Tapi karena media memilih apa yang penting dan apa yang tidak—dan pilihan itu mengikuti kepentingan kekuasaan." 

Ruangan menjadi sunyi. 

Inilah inti dari "Understanding Power"—buku yang merupakan kompilasi dari diskusi, seminar, dan wawancara Chomsky selama satu dekade. Buku ini bukan teori abstrak. Ini adalah

pembedahan konkret tentang bagaimana kekuasaan bekerja dalam masyarakat yang kita sebut "bebas" dan "demokratis." 

Dan yang paling mengganggu: kekuasaan paling efektif adalah yang tidak kita sadari.

Mari kita bongkar cara kerjanya.

 


1 dari 10