Ukuran teks
18

Eksperimen yang Mengubah Segalanya

Bayangkan ini: Seorang dokter berusia 42 tahun, sehat, atletis, dengan berat badan ideal. Ia memutuskan melakukan eksperimen pada dirinya sendiri. 

Selama empat minggu, 80% dari makanannya akan berasal dari makanan ultra-proses—sereal kotak, roti kemasan, nugget ayam, pizza beku, minuman bersoda, camilan dalam bungkus plastik mengkilap. 

Ini bukan makanan aneh atau ekstrem. Ini adalah makanan yang ada di hampir setiap rumah. Makanan yang iklannya kita lihat setiap hari. Makanan yang kita berikan pada anak-anak kita tanpa pikir panjang. 

Apa yang terjadi dalam empat minggu? 

Chris van Tulleken, presenter BBC dan dokter dengan gelar PhD, mengalami transformasi yang menakutkan: 

● Berat badan naik 7 kg (dari 72 kg menjadi 79 kg) 

● Tidurnya hancur - insomnia dan mimpi buruk 

Wasir muncul untuk pertama kali dalam hidupnya 

● Libido menurun drastis 

● Mood swing dan perasaan depresi 

Kecanduan - ia merasa tidak bisa berhenti makan meskipun sudah kenyang

● Pemindaian MRI menunjukkan otak berubah—area yang terkait dengan reward dan kecanduan menjadi lebih aktif, mirip dengan pecandu narkoba 

Yang paling mengerikan? Ia kehilangan kontrol. 

"Saya merasa seperti zombie," tulisnya. "Saya tahu apa yang saya makan tidak baik. Tapi tubuh saya menginginkannya. Otak saya meminta lebih. Saya merasa seperti tidak punya pilihan." 

Empat minggu. Hanya empat minggu untuk mengubah tubuh dan otak seorang pria dewasa yang sehat.

Sekarang pertanyaannya: Jika ini yang terjadi dalam empat minggu, apa yang terjadi pada orang yang makan seperti ini selama bertahun-tahun? 

Dan lebih penting lagi: Apa yang terjadi pada anak-anak kita yang tumbuh dengan makanan ini? 

Buku "Ultra-Processed People" bukan sekadar tentang diet. Ini adalah investigasi mendalam tentang bagaimana industri makanan mengubah apa yang kita makan—dan dalam prosesnya, mengubah tubuh dan pikiran kita. 

Mari kita mulai dari awal: Apa sebenarnya makanan ultra-proses itu?

 


1 dari 9