Ukuran teks
18

Panggilan Telepon yang Mengubah Segalanya

Bayangkan Anda sedang menjalani hidup yang sibuk. Karir menanjak. Uang mengalir. Nama Anda dikenal. Setiap hari adalah deadline, meeting, target, prestasi. Anda bergerak begitu cepat sampai lupa kapan terakhir kali Anda benar-benar berhenti dan bertanya: 

"Untuk apa semua ini?" 

Mitch Albom adalah orang seperti itu. Jurnalis olahraga sukses. Menulis untuk koran besar. Sering tampil di TV. Punya rumah bagus, mobil bagus, kehidupan yang—menurut standar masyarakat—sempurna. 

Tapi ada kekosongan. Sesuatu yang hilang. Dan dia terlalu sibuk untuk memikirkannya. 

Suatu malam di tahun 1995, dia menyalakan TV dan melihat wajah yang familiar. Wajah yang tidak dia lihat selama 16 tahun. Wajah yang pernah sangat berarti baginya di masa kuliah. 

Morrie Schwartz. Profesor sosiologi kesayangannya. 

Tapi Morrie tidak sedang di studio TV untuk seminar akademik. Dia sedang diwawancara karena dia sedang sekarat—dari penyakit ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis), penyakit yang perlahan melumpuhkan semua otot tubuh sampai Anda tidak bisa bergerak, tidak bisa bernapas, tidak bisa hidup. 

Dan yang mengejutkan Mitch: Morrie tersenyum. Di tengah kematian yang perlahan mendekat, profesor tuanya itu tersenyum dengan tulus. 

Mitch meraih telepon. Menelepon Morrie. Dan membuat janji untuk bertemu—"hanya sekali." 

Tapi satu kunjungan berubah menjadi dua. Dua menjadi empat. Dan akhirnya menjadi ritual setiap Selasa selama empat bulan terakhir kehidupan Morrie.

Setiap Selasa, Mitch datang dengan kantong makanan dari deli favorit Morrie. Mereka duduk. Mereka bicara. Morrie mengajar—seperti dulu di kampus—tapi kali ini tentang mata kuliah yang paling penting: 

Makna hidup. 

Ini bukan kisah tentang kematian. Ini kisah tentang bagaimana hidup sepenuhnya—pelajaran yang Mitch—dan kita semua—hampir lupakan dalam kesibukan mengejar "kesuksesan." 

Mari kita dengarkan pelajaran terakhir Morrie.

 


1 dari 11