Email yang Ditulis Ulang 17 Kali
Sarah menatap layar laptopnya untuk kesekian kalinya malam itu. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Email yang ingin dia kirim ke atasannya hanya tiga paragraf sederhana—meminta feedback untuk proyeknya. Tapi dia sudah menulis ulang 17 kali.
"Apakah nada saya terlalu meminta-minta?" "Mungkin saya terdengar tidak profesional?" "Bagaimana kalau dia pikir saya tidak kompeten?" "Atau mungkin saya mengganggu waktunya?"
Akhirnya, setelah satu jam menatap layar, Sarah menekan tombol send. Lalu langsung menyesal. Perutnya melilit. Dia membuka sent folder dan membaca ulang emailnya.
"Oh tidak, saya lupa menambahkan satu poin penting!" "Seharusnya saya pakai kata yang berbeda di paragraf kedua!"
Malam itu Sarah tidak bisa tidur. Pikirannya berputar tanpa henti, menganalisis setiap kata dalam email tiga paragraf itu.
Besok paginya, atasannya membalas dengan singkat: "Terima kasih Sarah. Proyeknya bagus. Lanjutkan."
Semua kecemasan itu—untuk balasan dua kalimat yang positif.
Jika Anda mengenali diri Anda dalam cerita Sarah, Anda tidak sendirian.
Melody Wilding, seorang coach eksekutif dan profesor Human Behavior di Hunter College, menghabiskan bertahun-tahun bekerja dengan orang-orang seperti Sarah—orang yang dia sebut "Sensitive Strivers" (Pencapaian yang Sensitif).
Mereka adalah orang-orang yang:
● Sangat ambisius dan ingin sukses
● Tapi juga sangat sensitif terhadap kritik, penolakan, dan penilaian orang lain
● Punya standar tinggi untuk diri sendiri (kadang terlalu tinggi)
● Overthinking setiap keputusan kecil
● Takut mengecewakan orang lain
● Merasa tidak pernah cukup baik, meskipun sudah capai banyak hal
Jika ini terdengar familiar, Anda mungkin seorang Sensitive Striver.
Dan kabar baiknya? Sensitivitas Anda bukanlah kelemahan yang harus diatasi. Ini adalah kekuatan yang perlu Anda pelajari cara menggunakannya.
Mari kita mulai perjalanan dari self-doubt menuju self-trust.