Ukuran teks
18

Orang Tua yang Terlalu Banyak Bertanya

Athena, 399 SM. Pagi yang cerah. 

Seorang pria berusia 70 tahun berjalan ke gedung pengadilan. Rambutnya putih, tubuhnya tidak atletis, pakaiannya sederhana. Tidak ada yang istimewa dari penampilannya. 

Tapi semua orang di Athena mengenalnya. Sebagian menghormatinya. Sebagian membencinya. Tidak ada yang acuh. 

Namanya: Socrates

Tuduhannya: Merusak pemuda Athena dan tidak percaya kepada dewa-dewa kota.

Hukumannya jika terbukti bersalah: Kematian

Apa yang dilakukan Socrates untuk mendapat tuduhan seperti ini? Apa kejahatan mengerikan yang dia lakukan? 

Dia bertanya

Dia berjalan di pasar, di gimnasium, di tempat umum, dan mengajukan pertanyaan kepada orang-orang yang mengklaim punya kebijaksanaan: politisi, penyair, pengrajin, guru. 

"Apa itu keadilan?" "Apa itu keberanian?" "Apa yang membuat hidup layak dijalani?" 

Dan melalui pertanyaan-pertanyaannya yang tajam, dia mengungkap bahwa kebanyakan orang—terutama yang merasa paling bijaksana—sebenarnya tidak tahu apa yang mereka klaim tahu. 

Ini membuat dia populer di kalangan anak muda yang senang melihat orang dewasa yang sombong dipermalukan. 

Tapi ini juga membuat dia sangat dibenci oleh orang-orang berkuasa yang merasa dipermalukan.

Dan sekarang, mereka ingin balas dendam. 

Pengadilan ini seharusnya menjadi akhir dari Socrates. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya: ini adalah awal dari filsafat Barat seperti yang kita kenal

Karena apa yang Socrates katakan—dan yang paling penting, bagaimana dia mati—mengubah cara manusia berpikir tentang kebenaran, keadilan, dan kehidupan itu sendiri. 

Mari kita saksikan drama ini terungkap.

 


1 dari 8