Pertanyaan Seharga Nyawa
21 Juli 1796. Tengah hari di tepi Sungai Niger, Afrika Barat.
Seorang pria kulit putih duduk sendirian di bawah pohon, menatap aliran air yang berkilauan di bawah matahari tropis. Rambutnya kusut. Pakaiannya compang-camping. Wajahnya terbakar matahari. Tubuhnya kurus kering karena berbulan-bulan kelaparan dan demam.
Tapi matanya bersinar.
Karena setelah berbulan-bulan berjalan kaki melintasi gurun, ditawan oleh raja yang kejam, hampir mati kehausan berkali-kali, diserang perampok, ditinggalkan oleh semua pemandu—Mungo Park akhirnya menemukan apa yang dia cari.
Sungai Niger.
Pertanyaan yang telah membingungkan para ahli geografi Eropa selama berabad-abad: Di mana Sungai Niger? Ke arah mana alirannya? Dari mana sumbernya?
Beberapa bilang mengalir ke barat. Beberapa bilang ke timur. Beberapa bilang sungai ini adalah cabang Sungai Nil. Tidak ada yang tahu pasti—karena tidak ada orang Eropa yang pernah melihatnya dan kembali untuk menceritakannya.
Mungo Park, dokter Skotlandia berusia 24 tahun, dikirim oleh African Association London untuk menjawab pertanyaan ini.
Misinya sederhana dalam pernyataan, mustahil dalam pelaksanaan: Temukan Sungai Niger. Kembalilah hidup-hidup.
Dari 1795-1797, Park melakukan perjalanan yang akan menjadi salah satu kisah survival paling luar biasa dalam sejarah eksplorasi. "Travels in the Interior Districts of Africa" adalah catatan langsungnya—ditulis dengan detail yang presisi, kejujuran yang menyegarkan, dan keberanian yang tenang.
Ini bukan sekadar kisah petualangan. Ini adalah kisah tentang apa yang terjadi ketika seseorang melampaui batas yang dianggap manusiawi—dan menemukan kemanusiaan di tempat yang paling tidak terduga.
Mari kita ikuti jejaknya.