Janji yang Ditepati Seumur Hidup
Tokyo, 1945. Seorang gadis kecil berusia 12 tahun berdiri di reruntuhan.
Di hadapannya, tidak ada lagi gerbong kereta yang menjadi ruang kelas ajaib. Tidak ada lagi pohon-pohon tempat dia memanjat. Tidak ada lagi lapangan tempat dia berlari dengan bebas.
Tomoe Gakuen—sekolah yang mengubah hidupnya—telah rata dengan tanah, dibakar habis oleh bom Amerika.
Di tengah abu dan puing, Kepala Sekolah Kobayashi—pria yang pertama kali mendengarkannya berbicara selama empat jam tanpa henti, yang melihat keajaiban di mana orang lain melihat masalah—berdiri dengan air mata di matanya.
"Anak-anak," katanya dengan suara bergetar, "kita akan membangun sekolah baru. Sekolah yang lebih baik lagi."
Tapi janji itu tidak pernah terwujud. Perang telah mengambil segalanya. Pak Kobayashi tidak punya uang untuk membangun kembali. Tomoe Gakuen—sekolah paling revolusioner di Jepang—menjadi kenangan.
Gadis kecil itu, Tetsuko—atau yang dipanggil Totto-chan—berdiri di sana dengan hati hancur. Tapi di tengah kehancuran, sesuatu tumbuh di dalam dirinya.
Sebuah janji.
"Suatu hari, saya akan menceritakan tentang Tomoe kepada dunia. Saya akan memastikan bahwa apa yang Pak Kobayashi ajarkan tidak akan hilang."
Butuh hampir 40 tahun untuk menepati janji itu. Tapi ketika bukunya "Totto-Chan: The Little Girl at the Window" diterbitkan tahun 1981, buku itu menjadi buku terlaris sepanjang masa di Jepang dengan lebih dari 25 juta eksemplar terjual di seluruh dunia.
Dan kisahnya belum selesai.
"Totto-Chan: The Sequel" adalah kisah tentang bagaimana seorang anak yang dianggap "tidak bisa diatur" di sekolah biasa menjadi salah satu tokoh paling dicintai di Jepang, Duta Goodwill UNICEF, dan suara untuk anak-anak di seluruh dunia.
Ini adalah kisah tentang kekuatan satu orang yang percaya pada Anda ketika tidak ada orang lain yang percaya.
Mari kita mulai.