Mata yang Tidak Bisa Dilupakan
Bayangkan Anda berdiri di sebuah kamp pengungsi di Afrika. Debu beterbangan di mana-mana. Panas membakar kulit. Di sekeliling Anda, ribuan anak—kurus, dengan perut buncit karena malnutrisi, mengenakan pakaian compang-camping.
Lalu seorang anak perempuan kecil mendekati Anda. Mungkin usianya enam tahun, mungkin delapan—sulit menebak karena kelaparan membuat anak-anak terlihat lebih kecil dari usia sebenarnya. Dia tidak meminta makanan. Tidak meminta uang.
Dia hanya menatap Anda dengan mata besar yang penuh pertanyaan: "Apakah Anda akan membantu kami?"
Tetsuko Kuroyanagi—atau yang lebih dikenal sebagai Totto-chan—tidak pernah bisa melupakan mata-mata itu.
Dia adalah salah satu selebriti paling terkenal di Jepang. Pembawa acara televisi dengan gaji tinggi. Aktris yang disukai jutaan orang. Penulis buku laris yang telah terjual lebih dari 25 juta eksemplar di seluruh dunia.
Hidupnya nyaman. Aman. Penuh dengan kemewahan.
Tapi pada tahun 1984, ketika UNICEF memintanya menjadi Goodwill Ambassador, dia membuat keputusan yang mengubah hidupnya: dia berkata ya.
Sejak itu, lebih dari tiga dekade, Totto-chan telah mengunjungi puluhan negara—dari Sudan hingga Afghanistan, dari Kamboja hingga Angola—bertemu ribuan anak yang hidup di tengah perang, kemiskinan, dan penyakit.
"Totto-Chan's Children" adalah catatan perjalanan itu. Bukan sekadar laporan perjalanan. Ini adalah kesaksian tentang kemanusiaan di titik paling rapuhnya. Tentang anak-anak yang tetap tersenyum meskipun dunia mereka hancur. Tentang apa artinya menjadi manusia di dunia yang sering tidak manusiawi.
Dan yang paling penting: tentang apa yang bisa kita lakukan.
Mari kita mulai perjalanan ini—perjalanan yang mungkin tidak nyaman, tapi sangat penting.