Pagi yang Mengubah Segalanya
Sabtu pagi, 13 September 2008. Pukul 7:00. Jamie Dimon, CEO JPMorgan Chase—bank terbesar ketiga di Amerika—berdiri di dapur apartemen mewahnya di Park Avenue, menuangkan kopi ke cangkirnya. Kepalanya berdenyut. Hangover ringan dari semalam, tapi bukan itu yang membuatnya sakit.
Yang membuatnya sakit adalah: ia tahu terlalu banyak.
Malam sebelumnya, ia menghadiri pertemuan darurat di Federal Reserve Bank of New York bersama dengan selusin CEO Wall Street lainnya. Misi mereka: menyelamatkan Lehman Brothers—bank investasi terbesar keempat di negara itu.
Dimon tahu bahwa Lehman mungkin tidak akan bertahan hingga akhir pekan ini. JPMorgan telah memeriksa buku mereka seminggu sebelumnya sebagai pemberi pinjaman potensial. Hasilnya? Tidak terkesan. Bahkan, JPMorgan meminta jaminan tambahan dari Lehman karena takut perusahaan itu akan jatuh.
Tapi Dimon khawatir tentang lebih dari sekadar Lehman Brothers.
Ia tahu bahwa jika Lehman jatuh, efek dominonya bisa menghancurkan seluruh sistem keuangan global. Bukan hanya Wall Street. Bukan hanya Amerika. Tetapi seluruh dunia.
Dan ia benar.
48 jam kemudian, Lehman Brothers—perusahaan berusia 158 tahun yang selamat dari Perang Saudara, Depresi Besar, dan dua Perang Dunia—akan bangkrut. Kebangkrutan terbesar dalam sejarah Amerika.
Apa yang terjadi selanjutnya adalah kisah paling dramatis dalam keuangan modern: bagaimana segelintir orang—didorong oleh ego, ketakutan, keserakahan, dan insting bertahan hidup—membuat keputusan yang menentukan nasib ekonomi global.
Ini bukan cerita tentang angka dan grafik. Ini adalah cerita tentang manusia di bawah tekanan luar biasa, mencoba menyelamatkan dunia dari jurang kehancuran.
Selamat datang di "Too Big to Fail"—kisah di balik layar krisis keuangan 2008 yang nyaris membawa kita ke Great Depression II.