Ukuran teks
18

Punggungmu di Dinding

Bayangkan ini: Anda berusia 25 tahun. Anda musisi dengan bakat luar biasa. Kritikus menyebut Anda "masa depan rock and roll." 

Tapi ada satu masalah kecil: tidak ada yang membeli album Anda. 

Album pertama? Penjualan buruk. Album kedua? Bahkan lebih buruk. Label rekaman Anda—Columbia Records—sudah kehilangan kesabaran. Mereka memberi Anda satu kesempatan terakhir. Satu album lagi. Kalau gagal, mereka akan membuang Anda. 

Anda bangkrut. Kantong kosong. Untuk membayar musisi di band Anda, manajer Anda harus mengosongkan rekening tabungan kuliah anak-anaknya sendiri. 

Anda merekam di studio yang dulunya pom bensin—piano selalu fals, peralatan selalu rusak, dan Anda tidak punya uang untuk pindah ke tempat yang lebih baik. 

Anda perfeksionis yang obsesif. Anda merekam satu lagu ratusan kali karena "belum terasa benar." Anda membuat saxophonist Anda memainkan solo yang sama selama berjam-jam, catatan demi catatan, sampai sempurna. 

Anda tidur tiga jam semalam. Makan dengan buruk. Hampir gila karena tekanan. 

Dan kemudian, setelah berbulan-bulan siksaan, Anda akhirnya mendengar album yang sudah selesai—dan reaksi pertama Anda adalah: 

"Ini sampah. Kita buang saja dan mulai dari awal." 

Anda melempar acetate album ke kolam renang dan ingin menyerah sepenuhnya. 

Ini adalah cerita Bruce Springsteen dan pembuatan "Born to Run"—album yang 50 tahun kemudian masih dianggap sebagai salah satu karya terbesar dalam sejarah rock and roll. 

Peter Ames Carlin menulis "Tonight in Jungleland" untuk membawa kita ke dalam studio, ke dalam pikiran Bruce, dan ke dalam proses brutal yang hampir tidak pernah terjadi. Ini bukan hanya cerita tentang membuat album. Ini cerita tentang apa yang terjadi ketika seni, obsesi, dan keputusasaan bertabrakan—dan entah bagaimana menciptakan sesuatu yang sempurna.

Mari kitamasukke914SoundStudios, 1974—di manasalahsatualbumpaling ikonikdalam sejarahmusikhampirtidakpernahada.

 


1 dari 8