Ketika Persahabatan Adalah Kisah Cinta Terbesar
"Ini bukan kisah cinta," kata Sadie.
Tapi itu bohong.
Atau mungkin bukan. Tergantung bagaimana Anda mendefinisikan cinta.
Tidak ada ciuman di bawah hujan. Tidak ada konfesi cinta yang dramatis. Tidak ada pernikahan atau happy ending yang klise.
Tapi ada dua orang yang saling mengenal lebih dalam daripada siapa pun di dunia mereka. Dua orang yang menciptakan dunia bersama—dunia digital yang dimainkan jutaan orang. Dua orang yang saling menyakiti dan saling memaafkan berkali-kali. Dua orang yang tidak bisa hidup satu sama lain, tapi juga tidak bisa hidup tanpa satu sama lain.
Sam dan Sadie.
Dua jenius game design yang bertemu ketika mereka masih anak-anak di ruang tunggu rumah sakit Los Angeles. Yang berpisah karena kesalahpahaman yang menyakitkan. Yang bertemu kembali di stasiun kereta Boston dan memutuskan untuk membuat game bersama.
Game yang akan mengubah hidup mereka. Game yang akan membuat mereka terkenal. Game yang akan hampir menghancurkan persahabatan mereka.
"Tomorrow, and Tomorrow, and Tomorrow"—judul yang diambil dari monolog Macbeth tentang sifat berulang waktu—adalah novel tentang apa yang terjadi ketika Anda menemukan partner kreatif sejati Anda. Orang yang melihat dunia seperti Anda melihatnya. Orang yang bisa menyelesaikan kalimat Anda dalam kode.
Tapi juga tentang harga dari kolaborasi itu. Tentang ego. Tentang pengakuan. Tentang siapa yang mendapat kredit. Tentang bagaimana orang yang paling kita cintai bisa menjadi orang yang paling kita sakiti.
Ini adalah kisah tentang membuat dunia—dalam game dan dalam kehidupan nyata.
Mari kita masuk ke permainan.