Delapan Hari Terakhir
George Washington Crosby sedang sekarat.
Di ruang tamu rumahnya, dikelilingi keluarga, dia berbaring di tempat tidur rumah sakit yang didatangkan khusus. Sudah delapan hari. Tubuhnya perlahan mati—organ demi organ berhenti bekerja, napas semakin dangkal, kesadaran datang dan pergi seperti gelombang.
Tapi pikirannya? Pikirannya berjalan.
Seperti jam antik yang ia perbaiki sepanjang hidupnya, pikiran George berputar mundur dan maju, memutar kenangan yang sudah bertahun-tahun terkubur. Ia melihat wajah ayahnya yang sudah lama meninggal. Ia mendengar lonceng kereta kuda di musim dingin New England tahun 1920-an. Ia mencium aroma pinus dan birch dari hutan masa kecilnya.
Waktu tidak lagi linear. Masa lalu dan sekarang tumpang tindih, bercampur, melebur.
Dan dalam delapan hari terakhir itu—dalam ruang sempit antara hidup dan mati—George Washington Crosby mengalami seluruh hidupnya sekali lagi.
Ini bukan cerita tentang pencapaian besar atau drama heroik. Ini adalah cerita tentang seorang pria biasa yang hidup dengan tenang, yang memperbaiki jam rusak, yang mencintai keluarganya, yang mewarisi luka dari ayahnya, dan yang meninggalkan luka sendiri untuk anak-anaknya.
Ini adalah cerita tentang bagaimana kita mengingat, bagaimana waktu bekerja, dan apa yang tersisa ketika segalanya berakhir.
Paul Harding menulis "Tinkers" bukan sebagai novel konvensional. Ini lebih seperti puisi panjang, meditasi tentang kesadaran manusia, sebuah jam yang dibongkar sehingga kita bisa melihat setiap roda gigi kecil yang membuatnya berdetak.
Mari kita masuki ruangan itu. Mari kita duduk di samping George. Dan mari kita mendengarkan apa yang diceritakan oleh jam-jam yang rusak.