Ukuran teks
18

Harami—Kata yang Menghancurkan Masa Depan

Bayangkan Anda berusia lima tahun. Ibu Anda—dengan mata pahit yang tidak pernah tersenyum—menatap Anda dan mengatakan satu kata yang akan menghantui Anda seumur hidup: 

"Harami." 

Anak haram. Anak tidak sah. Anak yang tidak seharusnya ada. 

Anda tidak mengerti apa artinya saat itu. Tapi Anda merasakan beratnya—cara kata itu keluar dari mulut ibu seperti meludah, cara orang-orang di kota memandang Anda dengan tatapan yang mencampur kasihan dan penghinaan. 

Ayah Anda—pria kaya yang tinggal di rumah besar dengan tiga istri sah dan banyak anak—datang mengunjungi Anda seminggu sekali. Dia membawa hadiah, tersenyum, menceritakan kisah. Tapi dia tidak pernah membawa Anda pulang. 

Karena Anda, kata ibu Anda, adalah aib. Kesalahan. Sesuatu yang harus disembunyikan. 

Lalu pada ulang tahun ke-15, Anda memberanikan diri meminta satu hal sederhana: "Ayah, bisakah kita menonton Pinocchio bersama?" 

Ayah Anda berjanji. Tapi dia tidak datang. 

Jadi Anda berjalan sendiri ke rumahnya—berjalan berjam-jam melalui jalan berdebu Herat. Anda mengetuk pintunya. Tapi pembantu mengatakan dia tidak ada. 

Anda tahu itu bohong. Anda melihat bayangan di jendela. Anda tahu dia di dalam—dia hanya tidak ingin melihat Anda. 

Jadi Anda tidur di jalan, di depan rumahnya, sepanjang malam. 

Keesokan paginya, sopirnya mengantarkan Anda pulang. Dan Anda menemukan ibu Anda—ibu yang pahit, yang keras, yang selalu mengatakan "jangan pernah bergantung pada pria"—gantung diri.

Karena Anda meninggalkannya. Karena Anda memilih ayah yang tidak menginginkan Anda.

Ini adalah awal dari cerita Mariam. 

Dan ini hanya permulaan dari penderitaan yang akan dia—dan jutaan perempuan Afghanistan lainnya—hadapi. 

Khaled Hosseini menulis A Thousand Splendid Suns bukan hanya sebagai kisah dua perempuan. Dia menulis tentang Afghanistan yang hancur oleh perang. Tentang bagaimana perempuan menjadi korban pertama dari setiap konflik. Dan tentang bagaimana—bahkan di tengah kehancuran total—cinta, persahabatan, dan pengorbanan bisa membuat hidup masih layak dijalani. 

Ini adalah cerita yang akan menghancurkan hati Anda. Tapi juga akan menunjukkan pada Anda kekuatan yang tidak Anda tahu ada dalam jiwa manusia.

 


1 dari 11