Ketika Kata-kata Adalah Bahasa Asing
Bayangkan ini: Seseorang berkata pada Anda, "Tolong ambilkan sepatu di atas."
Kebanyakan orang langsung paham—"di atas" berarti di rak, di lemari, di tempat yang lebih tinggi.
Tapi bagi Temple Grandin di usia 5 tahun, instruksi itu tidak masuk akal. "Di atas" di mana? Di atas meja? Di atas atap? Di atas langit? Kata-kata abstrak seperti "di atas" atau "nanti" atau "mungkin" adalah misteri yang membingungkan.
Tapi tunjukkan padanya gambar sepatu di rak atas lemari—dan dia langsung mengerti. Karena otaknya tidak berpikir dalam kata-kata. Otaknya berpikir dalam gambar.
Temple Grandin lahir tahun 1947 dengan autisme—di era ketika dokter menyarankan orang tua untuk memasukkan anak autistik ke institusi mental dan "melupakan mereka." Di era ketika autism dianggap tidak ada harapan.
Ibunya menolak. Dia mencari terapis, guru, dan memberikan Temple setiap kesempatan untuk berkembang.
Hari ini, Temple Grandin adalah:
● Profesor ilmu hewan di Colorado State University
● Salah satu desainer sistem peternakan paling berpengaruh di dunia (lebih dari separuh sapi di Amerika Utara ditangani dengan sistem yang dia rancang)
● Penulis bestselling
● Pembicara yang menginspirasi jutaan orang
Tapi yang paling penting: dia adalah jembatan antara dunia neurotipikal dan dunia autistik. Dia bisa menjelaskan bagaimana otak autistik bekerja dari dalam—sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
"Thinking in Pictures" adalah jendela ke dalam pikiran yang bekerja dengan cara yang fundamental berbeda. Dan dalam memahami perbedaan itu, kita tidak hanya belajar tentang autism. Kita belajar tentang keragaman luar biasa dari pikiran manusia—dan kekuatan yang datang dari cara berpikir yang berbeda.
Mari kita masuk ke dunia Temple Grandin.