Tendangan Penalti yang Mengubah Segalanya
Bayangkan Anda adalah Takeru Kobayashi, kontestan makan hot dog profesional dari Jepang, berdiri di hadapan masalah besar:
Kompetisi makan hot dog Nathan's Famous di Coney Island, New York. Event legendaris. Rekor dunia: 25 hot dog dalam 12 menit.
Semua orang tahu cara makan hot dog: ambil hot dog, gigit, kunyah, telan. Ulangi. Lebih cepat lebih baik.
Kobayashi mengajukan pertanyaan yang berbeda: "Bagaimana jika cara yang 'benar' untuk makan hot dog salah?"
Dia mulai bereksperimen:
● Bagaimana jika dia pisahkan roti dan sosis?
● Bagaimana jika dia celupkan roti ke air dulu agar lebih mudah ditelan?
● Bagaimana jika dia goyang-goyangkan kepalanya saat menelan untuk membantu gravitasi?
Semua orang berpikir dia gila.
Tahun 2001, Kobayashi mengikuti kompetisi. Dia tidak makan 26 hot dog. Tidak 30.
Dia makan 50 hot dog dalam 12 menit.
Dia memecahkan rekor dunia dengan margin GANDA. Sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah kompetisi olahraga apa pun.
Bagaimana dia melakukannya? Bukan karena dia lebih kuat atau perutnya lebih besar. Tapi karena dia berpikir secara berbeda tentang masalahnya.
Inilah inti dari "Think Like a Freak": kebanyakan orang gagal memecahkan masalah bukan karena tidak cukup pintar, tapi karena mereka tidak mendefinisikan masalah dengan benar, tidak bertanya pertanyaan yang tepat, dan tidak berani berpikir di luar konvensi.
Steven Levitt (ekonom dari University of Chicago) dan Stephen Dubner (jurnalis) menghabiskan bertahun-tahun mempelajari bagaimana "freaks"—orang-orang yang berpikir berbeda—memecahkan masalah yang tampaknya mustahil.
Dan kabar baiknya: cara berpikir ini bisa dipelajari.
Mari kita mulai.