Ukuran teks
18

Api yang Menyelamatkan

Mann Gulch, Montana, 1949. Sore itu sangat panas. 

Lima belas petugas pemadam kebakaran elit—yang disebut smokejumpers—terjun payung ke hutan terpencil untuk memadamkan kebakaran. Wagner Dodge, sang komandan dengan pengalaman puluhan tahun, memimpin tim. 

Rencana mereka sederhana: mendaki ke bawah ke arah Missouri River, menggali garis di tanah mengelilingi api untuk menahan dan mengarahkannya ke area yang tidak banyak bahan bakarnya. 

Tapi sekitar seperempat mil kemudian, Dodge melihat sesuatu yang mengerikan. Api telah melompati jurang dan bergegas langsung menuju mereka. Tinggi api mencapai 30 kaki. Dalam hitungan detik, api akan bergerak cukup cepat untuk menyeberangi dua lapangan sepak bola dalam waktu kurang dari satu menit. 

Pukul 5:45 petang, jelas bahwa memadamkan api sudah tidak mungkin. Dodge segera memutar tim untuk berlari menanjak—tanjakan yang sangat curam, melalui rumput setinggi lutut di medan berbatu. 

Mereka masih membawa semua peralatan berat mereka: kapak, gergaji, sekop, dan ransel 20 pon. 

Api mengejar dari belakang, kurang dari 100 yard dan semakin dekat. 

Lalu Dodge melakukan sesuatu yang tak masuk akal. 

Dia berhenti berlari. Dia mulai menyalakan korek api dan membakar rumput di sekitarnya. "Cepat! Bakar area ini! Berbaring di sini!" teriaknya pada timnya. 

Tim mengira dia sudah gila. Kamu melarikan diri dari api—tidak membuat api baru! Mereka terus berlari.

Dodge berbaring di area yang telah ia bakar—area yang sudah tidak punya bahan bakar untuk dibakar api besar yang mendekat. 

Api utama menyapu melewatinya. Dodge selamat. 

Dua belas anggota timnya tewas. 

Hanya tiga yang selamat hari itu—Dodge dan dua orang lain yang berhasil berlari cukup cepat mencapai puncak. 

Tragedi Berlapis 

Yang membuat tragedi ini lebih menyakitkan: kebakaran Mann Gulch seharusnya tidak pernah dilawan sejak awal. 

Sejak tahun 1880-an, ilmuwan sudah mulai menyoroti peran penting kebakaran hutan dalam siklus kehidupan hutan. Api menghilangkan materi mati, mengirim nutrisi ke tanah, dan membuka jalan untuk sinar matahari. 

Ketika api ditekan, hutan menjadi terlalu padat. Akumulasi semak, daun kering, dan ranting menjadi bahan bakar untuk kebakaran hutan yang lebih eksplosif. 

Namun baru pada tahun 1978—hampir 30 tahun setelah Mann Gulch—Amerika Serikat akhirnya mengubah kebijakan dan memperbolehkan kebakaran hutan terpencil tertentu untuk membara secara alami. 

Tiga puluh tahun untuk memikirkan ulang asumsi dasar. 

Pelajaran yang Mengubah Segalanya 

Kisah ini mengajarkan dua pelajaran penting: 

Pertama, dalam dunia yang berubah cepat, kemampuan untuk rethink (berpikir ulang) lebih penting daripada kemampuan untuk think (berpikir). 

Dodge selamat bukan karena dia berpikir lebih cepat. Dia selamat karena dia memikirkan ulang situasi lebih cepat. Dia membuang asumsi bahwa "pemadam kebakaran selalu memadamkan api, tidak membuat api baru." 

Kedua, keterikatan kita pada identitas dan pelatihan bisa membunuh kita—secara harfiah atau metaforis. 

Smokejumpers yang meninggal tetap memegang peralatan mereka bahkan saat berlari untuk nyawa mereka. Satu orang bahkan tidak melepaskan sekopnya sampai rekannya mengambilnya dari tangannya.

Mengapa? Karena membawa dan merawat peralatan sudah sangat tertanam dalam pelatihan dan identitas mereka. Mereka adalah "petugas pemadam kebakaran dengan peralatan," bukan "orang yang sedang berlari untuk hidup." 

Identitas dan kebiasaan lama menahan mereka—bahkan ketika konteks sudah berubah total. 

Inilah yang Adam Grant, profesor psikologi organisasi di Wharton, ingin kita pahami: kita semua seperti smokejumpers yang terus memegang peralatan berat sambil berlari dari api. 

Kita berpegang pada keyakinan, asumsi, dan identitas lama—bahkan ketika mereka tidak lagi melayani kita. 

Think Again adalah buku tentang belajar melepaskan. Tentang belajar memikirkan ulang. Tentang bagaimana menjadi orang yang selamat—bukan yang terbakar.

 


1 dari 8