Telepon yang Mengubah Segalanya
Bayangkan Anda sedang duduk di kereta, scroll ponsel tanpa pikir, mencari video kucing lucu untuk melupakan hari yang melelahkan.
Lalu ponsel Anda bergetar.
Nama yang muncul di layar adalah nama yang tidak Anda lihat selama lima tahun. Nama yang membuat jantung Anda berhenti sejenak:
Elisabeth Storm (never Mom).
Tidak ada "Halo sayang, apa kabar?" Tidak ada "Kami merindukanmu." Hanya suara dingin dan terkontrol yang Anda kenal terlalu baik:
"Ayahmu meninggal. Pemakaman hari Sabtu. Kamu harus datang."
Klik.
Lima tahun Anda membangun hidup sendiri—jauh dari nama Storm, dari miliaran dolar keluarga, dari pulau pribadi di Rhode Island, dari ekspektasi yang menghancurkan. Lima tahun Anda bekerja sebagai guru seni, tinggal di apartemen kecil di New York, membuktikan bahwa Anda bisa bertahan tanpa mereka.
Dan sekarang, dengan satu panggilan telepon, semuanya runtuh.
Ini adalah situasi Alice Storm—protagonis dalam novel debut kontemporer Sarah MacLean yang memukau ini.
Tapi cerita ini bukan hanya tentang Alice. Ini tentang setiap orang yang pernah merasa tidak cukup baik untuk keluarganya. Tentang setiap orang yang pernah diasingkan karena tidak mau mengikuti aturan orang lain. Tentang setiap orang yang pernah pulang ke tempat yang dulunya rumah—dan menemukan bahwa rumah itu tidak pernah benar-benar rumah.
Dan yang paling penting, ini tentang apa yang terjadi ketika badai—literal dan metaforis—datang dan mengungkap semua rahasia yang dikubur dalam.
Mari kita masuk ke dalam badai ini.