Musim Gugur yang Tidak Pernah Berakhir
Bayangkan ini: Kamu berusia 14 tahun, duduk di bangku gym sekolah yang keras dan dingin. Di lapangan, lima anak kulit hitam dari lingkungan yang sama denganmu sedang bermain basket melawan sekolah dari pinggiran kota yang lebih kaya.
Setiap tembakan yang masuk bukan hanya poin. Setiap assist bukan hanya statistik. Ini adalah pembuktian. Bahwa kalian ada. Bahwa kalian penting. Bahwa dari lingkungan yang diabaikan, bisa lahir keajaiban.
Dan ketika buzzer berbunyi dan skormu lebih tinggi, untuk sesaat—hanya sesaat—dunia terasa adil.
Lalu musim berakhir. Mungkin kamu menang kejuaraan. Mungkin kamu kalah di semifinal. Tidak masalah. Karena ada satu kalimat yang selalu menyelamatkan:
"There's always next year." "Selalu ada tahun depan."
Tapi apa yang terjadi ketika "tahun depan" datang, dan hasilnya sama? Atau lebih buruk? Apa yang terjadi ketika kamu menyadari bahwa "selalu ada tahun depan" sebenarnya adalah cara halus untuk mengatakan: "Tahun ini bukan tahunmu"?
Dan apa yang terjadi ketika kamu menyadari bahwa kamu bukan hanya berbicara tentang basket—tapi tentang seluruh hidupmu, seluruh komunitasmu, seluruh kotamu yang sudah menunggu "tahun depan" selama beberapa dekade?
Hanif Abdurraqib, penulis dan kritikus musik pemenang penghargaan, tumbuh di Columbus, Ohio—kota yang tidak pernah menjadi "the city." Bukan New York. Bukan LA. Bukan Chicago. Hanya Columbus—kota di tengah Ohio yang orang lupakan ada di mana.
Tapi di tahun 2002-2003, sesuatu yang luar biasa terjadi di Ohio: seorang anak SMA bernama LeBron James membuat seluruh dunia menonton basket sekolah menengah. Dan untuk sesaat, Columbus—dan seluruh Ohio—merasa penting.
"There's Always This Year" adalah buku tentang momen itu. Tapi lebih dari itu, ini adalah buku tentang apa yang terjadi ketika harapan menjadi beban. Ketika kesetiaan menjadi penjara. Ketika menunggu "tahun depan" menjadi satu-satunya cara kamu tahu bagaimana bertahan.
Mari kita mulai.