Alarm Jam 5 Pagi di Dalam Mobil
Bayangkan ini: Jam alarm berbunyi pukul 5 pagi.
Anda bangun—bukan di kamar tidur yang hangat, tapi di kursi belakang mobil sedan yang sempit. Tubuh Anda pegal karena tidur dalam posisi yang salah. Anak Anda yang berusia 8 tahun masih tertidur di sebelah Anda, meringkuk dengan jaket sebagai selimut.
Anda diam-diam membuka pintu, keluar ke udara dingin pagi, dan berjalan ke toilet umum di pom bensin terdekat untuk cuci muka dan sikat gigi. Anda ganti baju di toilet sempit itu, merapikan diri serapih mungkin.
Pukul 6:30, Anda membangunkan anak Anda dengan lembut. "Sayang, waktunya bangun. Kita harus ke sekolah."
Anda mengantarnya ke sekolah—teman-temannya tidak tahu bahwa semalam dia tidur di mobil. Lalu Anda pergi ke tempat kerja. Anda clock in tepat waktu. Anda tersenyum pada rekan kerja. Anda bekerja keras selama 8 jam.
Tidak ada yang tahu bahwa Anda tunawisma.
Karena bagaimana bisa? Anda punya pekerjaan full-time. Anda tidak mabuk-mabukan. Anda tidak kecanduan narkoba. Anda tidak malas.
Anda bekerja. Keras. Setiap hari.
Tapi gaji Anda—$12 per jam, sekitar 8 juta rupiah sebulan—tidak cukup untuk menyewa apartemen yang paling murah sekalipun di kota Anda. Karena apartemen termurah meminta $1,200 sebulan (18 juta rupiah), ditambah deposit tiga bulan di muka.
Itu adalah realitas baru di Amerika—dan semakin banyak terjadi di kota-kota besar di seluruh dunia, termasuk Jakarta, Manila, Mumbai.
Ini adalah kisah tentang "working homeless"—orang-orang yang bekerja penuh waktu tapi tidak bisa membayar tempat tinggal.
Brian Goldstone, jurnalis yang menghabiskan enam tahun mengikuti lima keluarga di Atlanta, menulis buku ini untuk menunjukkan wajah baru dari krisis perumahan: Bukan orang yang malas. Bukan orang yang tidak mau bekerja. Tapi orang yang bekerja keras dan tetap tidak punya rumah.
Mari kita masuki kehidupan mereka.