Lukisan di Ruang Tamu—dan Pertanyaan yang Tak Terjawab
Bayangkan Anda berjalan ke rumah teman Anda di Norwich, Inggris.
Di ruang tamunya tergantung lukisan indah—potret seorang pria Arab dengan jubah tradisional, latar belakang pantai dan perahu layar. Lukisan tua, cat minyak yang sudah retak di beberapa bagian, frame kayu yang patina.
"Lukisan keluarga," kata teman Anda dengan santai. "Warisan dari kakek."
Anda mengangguk. Tidak ada yang aneh.
Tapi seandainya Anda tahu bahwa lukisan itu bukan "warisan keluarga." Itu dicuri dari rumah seorang pedagang di Zanzibar tahun 1960-an, ketika pemiliknya diburu dan dibunuh dalam revolusi yang penuh darah.
Seandainya Anda tahu bahwa kakek teman Anda adalah administrator kolonial Inggris yang mengambil "hadiah kecil" sebelum meninggalkan Afrika.
Seandainya Anda tahu bahwa cucu dari pria dalam lukisan itu sekarang bekerja sebagai security guard di Norwich—hanya beberapa kilometer dari rumah ini—dan tidak pernah tahu bahwa potret kakeknya tergantung di dinding orang asing.
Apakah itu masih "warisan keluarga"?
Atau itu pencurian yang digantung dengan bangga di ruang tamu?
Inilah pertanyaan yang Abdulrazak Gurnah ajukan dalam novel "Theft"—dan jawabannya jauh lebih kompleks dan menyakitkan dari yang Anda kira.
Gurnah, penulis Tanzania yang memenangkan Nobel Sastra 2021, tidak menulis tentang kolonialisme dengan cara yang kita harapkan. Tidak ada pertempuran heroik. Tidak ada penjahat yang jelas jahat. Tidak ada penyelesaian yang memuaskan.
Sebagai gantinya, dia menulis tentang kehilangan yang tidak terlihat—cara kolonialisme mencuri bukan hanya tanah dan emas, tetapi identitas, cerita, dan bahkan kemampuan untuk merasa di rumah di dunia Anda sendiri.
Mari kita masuk ke dalam cerita ini—cerita tentang dua saudara, satu lukisan, dan pertanyaan tentang siapa yang benar-benar memiliki masa lalu.